PRESIDEN Tiongkok Xi Jinping tiba di Singapura, kemarin sore, menjelang pertemuan bersejarah dengan Presiden Taiwan Ma Ying-jeou yang dijadwalkan hari ini. Xi akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Singapura Tony Tan dan Perdana Menteri Lee Hsien Loong terlebih dulu, baru kemudian bertemu dengan Presiden Ma di Hotel Shangri-La pada pukul 7.00 GMT atau 14.00 WIB hari ini.
Pertemuan Xi dan Ma hari ini merupakan pertama kalinya sejak kedua pihak terpecah pada 1949. "Singapura diminta kedua pihak untuk membantu memfasilitasi pertemuan," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu (4/11). Bagi Singapura, tahun ini merupakan peringatan 25 tahun hubungan diplomatik dengan Tiongkok. Singapura secara konsisten mendukung kebijakan One China.
Pada April 1993, di Singapura pula pihak Taiwan dan Tiongkok pernah mengadakan pertemuan. Kala itu, delegasi Tiongkok dipimpin Wang Daohan dan delegasi Taiwan diketuai Koo Chen-fu. Kedua delegasi merupakan pihak swasta, tapi didukung sepenuhnya oleh pemerintah. Perdana Menteri Singapura saat itu, Lee Kuan Yew, berperan sebagai penyampai pesan antarpihak sebelum pertemuan digelar.
Kali ini, Xi dan Ma diagendakan membicarakan kelanjutan pemeliharaan stabilitas di Selat Taiwan. Meski pertemuan diperkirakan berjalan mulus, banyak pendapat menyatakan pertemuan antara Ma dan Xi bakal memengaruhi pemilihan umum Taiwan pada 16 Januari 2016 mendatang. Pasalnya, Partai Kuomintang (KMT) tempat Ma bernaung diprediksi akan meraih suara sedikit saja di tengah sentimen anti-Tiongkok yang melanda Taiwan.
Presiden Ma menentang pernyataan tersebut. Ia menegaskan tujuan pertemuan itu bukanlah pemilu mendatang, melainkan demi kesejahteraan generasi mendatang.
Sepakat dengan Vietnam Sebelum tiba di Singapura, Presiden Tiongkok Xi Jinping juga berkunjung ke Vietnam. Xi bertemu dengan Ketua Partai Komunis Vietnam Nguyen Phu Trong dan bersepakat membatasi perbedaan serta menjaga perdamaian juga stabilitas kedua negara terkait dengan sengketa Laut China Selatan. Trong berjanji Vietnam tidak akan mengambil langkah yang dapat meningkatkan tensi ataupun langkah militer di Laut China Selatan.
Relasi kedua negara memang sempat melemah sejak memperebutkan Pulau Paracel di Laut China Selatan dan merebaknya aksi anti-Tiongkok di Vietnam. Upaya perbaikan hubungan di tingkat tinggi sudah dilakukan termasuk kunjungan Trong ke Tiongkok, April lalu.
Trong menyatakan seharusnya sengketa perairan Laut China Selatan tidak menghambat hubungan kedua negara. Pasalnya, Tiongkok merupakan rekan perdagangan terbesar Vietnam dengan nilai perdagangan keduanya mencapai US$58 miliar tahun lalu.
Kedatangan Xi di Vietnam sempat juga menuai unjuk rasa. Sebanyak 30 orang berkumpul di depan Kedutaan Besar Tiongkok di Hanoi, kemarin pagi. (AFP/AP/I-1)