Headline

Aturan itu menunjukkan keberpihakan negara pada kepentingan anak.

Balen Shah Menang Telak, Partai RSP Pimpin Revolusi Politik di Pemilu Nepal

Thalatie K Yani
09/3/2026 08:30
Balen Shah Menang Telak, Partai RSP Pimpin Revolusi Politik di Pemilu Nepal
Rapper yang beralih menjadi politikus, Balen Shah, mencetak kemenangan bersejarah di Pemilu Nepal. Partainya, RSP, diprediksi meraih kemenangan mutlak.(Media Sosial X)

DUNIA politik Nepal mencatat sejarah baru seiring kemenangan telak partai beraliran tengah, Rastriya Swatantra Party (RSP), dalam pemilihan parlemen yang berlangsung pekan ini. Berdasarkan hasil resmi parsial pada Minggu (9/3), partai yang dipimpin mantan rapper populer, Balendra "Balen" Shah, 35, diprediksi akan meraih kemenangan besar secara nasional.

Pemilihan umum ini merupakan yang pertama sejak gelombang protes antikorupsi kaum muda pada September 2025 yang menggulingkan pemerintahan sebelumnya. Sosok Shah, yang sebelumnya menjabat sebagai Wali Kota Kathmandu, kini bertransformasi menjadi calon kuat perdana menteri setelah berhasil menyingkirkan tokoh veteran politik Nepal.

Kejatuhan Politikus Veteran

Kemenangan paling dramatis terjadi pada Sabtu lalu saat Balen Shah berhasil mengalahkan mantan perdana menteri veteran empat kali, KP Sharma Oli, 74. Shah meraih suara tiga kali lipat lebih banyak daripada Oli di daerah pilihannya.

Oli, yang memimpin pemerintahan berhaluan Marxis sebelum digulingkan oleh protes tahun lalu, telah mengakui kekalahannya dan mengucapkan selamat kepada Shah. Ia menyampaikan harapan agar masa jabatan lima tahun Shah berjalan lancar dan sukses.

Guncangan politik ini tidak hanya menimpa Oli. Pemimpin baru partai Nepali Congress, Gagan Thapa, juga dilaporkan kalah oleh kandidat dari RSP. Hingga Minggu siang, dari 157 kursi yang telah diumumkan secara langsung, RSP mendominasi dengan 121 kursi, disusul Nepali Congress dengan 17 kursi, sementara partai Marxis pimpinan Oli tertinggal jauh dengan hanya tujuh kursi.

Dukungan Masif Generasi Z

Kenaikan pesat RSP dipicu oleh gerakan kaum muda yang bergerak di bawah panji "Gen Z". Protes pada September 2025 awalnya bermula dari kekecewaan atas larangan singkat media sosial, namun dengan cepat meluas menjadi kemarahan terhadap korupsi sistemik dan ekonomi yang terpuruk.

Jaringan Asia untuk Pemilihan Bebas (ANFREL) memantau bahwa pemungutan suara berjalan damai dan teratur, mencerminkan keterlibatan publik yang kuat terhadap proses demokrasi meskipun dalam kondisi ketidakstabilan politik.

"Penghitungan suara berjalan lancar di seluruh daerah pemilihan yang tersisa. Hasil akhir akan memakan waktu beberapa hari," ujar juru bicara Komisi Pemilihan Umum, Narayan Prasad Bhattarai.

Laporan Tragedi September 2025

Di tengah euforia kemenangan Shah, komisi investigasi bentukan pemerintah yang menyelidiki kekerasan mematikan pada September 2025 resmi menyerahkan laporannya pada Minggu. Laporan setebal 900 halaman tersebut diserahkan kepada Perdana Menteri Sementara, Sushila Karki.

Hingga saat ini, belum ada pihak yang dimintai pertanggungjawaban atas kematian selama aksi protes tersebut. PM Karki menyatakan bahwa implementasi dari rekomendasi laporan ini akan menjadi tugas pemerintahan baru yang akan datang.

"Kami tidak akan berada di sini untuk implementasinya, karena kami harus menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah baru. Namun, saya percaya pemerintah berikutnya akan mempelajari dan melaksanakan ini," tegas Karki.

Balen Shah, yang dikenal dengan gaya khas kacamata hitamnya, disambut sorak-sorai ribuan pendukung dalam parade kemenangannya. Meskipun belum memberikan pidato resmi, kemenangannya menandai pergeseran besar kepercayaan publik Nepal dari politikus tradisional ke generasi pemimpin baru. (AFP/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya