Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
CITRA satelit terbaru menunjukkan dampak serangan drone Iran ke Kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco, sementara kerusakan juga terdeteksi di fasilitas nuklir Natanz dan pangkalan angkatan laut Iran di Bandar Abbas. Insiden ini memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global dan lonjakan harga minyak.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyampaikan kepada televisi pemerintah bahwa dua drone berhasil dicegat di atas area kilang pada Senin (2/3) waktu setempat. Namun, puing-puing drone yang jatuh memicu kebakaran di lokasi. Otoritas memastikan tidak ada korban luka dari kalangan sipil.
Citra satelit yang dirilis perusahaan pemantau Vantor menunjukkan kepulan asap tebal membumbung dari kompleks kilang. Ras Tanura diketahui memproduksi lebih dari 500 ribu barel minyak per hari dan menjadi terminal ekspor utama minyak mentah Saudi karena lokasinya yang strategis di Teluk Persia.
Video terverifikasi di lapangan turut memperlihatkan dampak kebakaran di area fasilitas tersebut.
Insiden ini memunculkan kekhawatiran pasar energi global. Muncul spekulasi bahwa harga minyak dapat melonjak apabila konflik terus berlanjut.
Laporan yang beredar juga saling bertentangan mengenai kelancaran pelayaran kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan Teluk Persia dengan perairan internasional.
Kawasan sekitar Selat Hormuz, yang mencakup Arab Saudi, Irak, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Bahrain, dan Oman menyumbang sekitar 27% produksi minyak mentah dunia. Sekitar 20% pasokan energi global melewati jalur tersebut.
"Jika selat diblokir, kita bisa melihat harga minyak mencapai US$90, jadi mungkin bijaksana untuk mengisi bensin mobil Anda dengan bensin murah dalam beberapa hari ke depan," kata Henry Jennings, analis pasar senior di Marcus Today.
Kerusakan tambahan juga terdeteksi di fasilitas nuklir Natanz di Iran, yang menjadi bagian penting dari program pengayaan uranium negara tersebut.
Analisis citra yang dilakukan oleh Institute for Science and International Security (ISIS) menunjukkan dua pintu masuk personel dan satu jalur akses kendaraan menuju fasilitas bawah tanah terlihat jelas dalam gambar terbaru.
Menurut lembaga tersebut, fasilitas itu tidak lagi beroperasi sejak dibombardir Amerika Serikat pada Juni 2025. Meski demikian, ada kemungkinan lokasi tersebut masih menyimpan silinder uranium yang telah diperkaya, peralatan terkait, atau bahkan sentrifugal yang masih dapat dipulihkan.
ISIS juga melaporkan adanya aktivitas yang terdeteksi di luar area akses kendaraan pada akhir Februari.
Gambar satelit lain memperlihatkan sejumlah kapal Angkatan Laut Iran mengalami kerusakan di pelabuhan strategis Bandar Abbas, yang terletak di dekat Selat Hormuz dan berfungsi sebagai pangkalan utama angkatan laut Iran.
Asap hitam tebal terlihat mengepul dari area pelabuhan tersebut. Sebagian asap diduga berasal dari kapal yang diidentifikasi sebagai IRIS Kurdistan, berdasarkan analisis Institute for the Study of War.
Kapal tersebut merupakan tanker minyak yang telah dimodifikasi menjadi kapal perang dan disebut sebagai pangkalan terapung. Bentuk dek dan struktur kapal dinilai sesuai dengan tipe tersebut.
Setidaknya satu kapal lain juga tampak terbakar di sisi utara pelabuhan, meski sebagian besar tertutup asap tebal.
Amerika Serikat mengeklaim telah menenggelamkan 11 kapal Iran di Teluk Oman sejak pecahnya konflik. Hingga kini, belum dapat dipastikan apakah terdapat bangunan di pangkalan angkatan laut yang turut mengalami kerusakan akibat kebakaran tersebut. (ABC/Fer/I-1)
Kota pelabuhan Odesa kembali membara akibat serangan drone semalam. Satu orang dilaporkan tewas di tengah upaya negosiasi damai yang masih buntu.
Ketegangan AS-Iran meningkat setelah jet tempur F-35C menembak jatuh drone Iran yang mendekati USS Abraham Lincoln. Iran juga sempat ancam bajak tanker minyak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved