Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA puluhan tahun, buku sejarah mencatat manusia pertama kali menginjakkan kaki di Amerika sekitar 13.000 tahun yang lalu melalui kebudayaan Clovis. Namun, sebuah penemuan fenomenal di White Sands, New Mexico, kini meruntuhkan teori lama tersebut dan menulis ulang lini masa migrasi manusia.
Sekumpulan jejak kaki manusia yang terawetkan dalam lumpur purba ditemukan berasal dari periode Last Glacial Maximum (LGM), puncak Zaman Es sekitar 23.000 tahun silam. Meski awalnya sempat diragukan, penelitian terbaru kini membawa bukti yang tidak terbantahkan.
Awalnya, para ahli mempertanyakan akurasi penanggalan karbon yang hanya menggunakan benih tanaman dan serbuk sari. Menanggapi keraguan tersebut, tim peneliti kembali ke lokasi untuk mengambil sampel lumpur purba yang menyatu dengan jejak kaki tersebut.
Hasil analisis laboratorium independen menunjukkan angka yang konsisten. Lumpur tersebut berusia antara 20.700 hingga 22.400 tahun. Dengan demikian, tiga material berbeda, biji-bijian, serbuk sari, dan lumpur, semuanya menunjuk pada rentang waktu yang sama.
"Ini adalah catatan yang sangat konsisten," ujar Vance Holliday, profesor emeritus dari University of Arizona yang telah mempelajari migrasi manusia selama lima dekade. "Sampai pada titik di mana sangat sulit untuk membantah semua ini. Seperti yang saya tulis dalam makalah, akan menjadi sebuah kebetulan yang sangat ekstrem jika semua penanggalan ini memberikan gambaran konsisten yang ternyata salah."
Selama ini, teori "Clovis-First" menjadi fondasi arkeologi Amerika. Manusia dianggap menyeberang dari Siberia ke Alaska melalui jembatan darat Bering saat permukaan laut turun. Namun, keberadaan manusia di New Mexico 23.000 tahun lalu membuktikan mereka sudah jauh berada di selatan lapisan es ribuan tahun lebih awal dari perkiraan.
Temuan ini mengubah pemahaman kita, bukan hanya soal kapan manusia tiba, tapi juga bagaimana mereka bertahan hidup dan beradaptasi di lanskap prasejarah yang sangat berbeda.
"Rasanya aneh saat Anda pergi ke sana dan melihat jejak kaki itu secara langsung," ungkap Jason Windingstad, kandidat doktor ilmu lingkungan. "Anda menyadari bahwa hal ini pada dasarnya menyangkal semua yang pernah diajarkan kepada Anda tentang penghunian Amerika Utara."
Meski jejak kaki terlihat jelas, para kritikus masih mempertanyakan ketiadaan alat batu atau sisa pemukiman di lokasi tersebut. Namun, Holliday menjelaskan bahwa jejak tersebut mungkin hanya lintasan cepat yang dilewati dalam hitungan detik.
"Orang-orang ini hidup dengan mengandalkan alat-alat mereka, dan mereka berada jauh dari sumber material pengganti. Mereka tidak akan membuang artefak secara sembarangan," jelas Holliday. "Bagi saya tidak logis jika Anda berharap melihat lapangan penuh puing artefak di sana."
Penelitian terbaru ini memberikan kepercayaan diri lebih bagi para ilmuwan untuk menyatakan bahwa manusia telah menghuni Amerika jauh lebih lama dari yang diasumsikan sebelumnya. Sejarah kini memiliki titik awal yang baru. (Earth/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved