Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Tambang Coltan di Kongo Runtuh, Lebih dari 200 Orang Dilaporkan Tewas

Haufan Hasyim Selengke
31/1/2026 10:13
Tambang Coltan di Kongo Runtuh, Lebih dari 200 Orang Dilaporkan Tewas
Pemandangan umum lubang penambangan di Rubaya pada 5 Maret 2025.(AFP)

BENCANA kemanusiaan kembali mengguncang Republik Demokratik Kongo (DRC). Lebih dari 200 orang dilaporkan tewas setelah tambang coltan Rubaya di wilayah timur DRC runtuh pada Rabu waktu setempat, dan jumlah pasti korban masih belum jelas hingga Jumat (30/1). Insiden tragis ini menyoroti risiko tinggi penambangan manual di wilayah yang kini dikuasai kelompok pemberontak.

Lumumba Kambere Muyisa, juru bicara gubernur provinsi yang ditunjuk kelompok pemberontak, mengonfirmasi bahwa korban jiwa mencakup para penambang, perempuan pedagang pasar, hingga anak-anak. Hingga Jumat malam, jumlah pasti korban masih terus diverifikasi karena kondisi medan yang sulit.

“Kami sedang berada di musim hujan. Kondisi tanah sangat rapuh. Tanah tersebut amblas saat para korban sedang berada di dalam lubang galian,” ujar Muyisa. Sekitar 20 orang yang berhasil diselamatkan kini tengah menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan setempat dengan luka serius.

Tambang Rubaya, yang terletak sekitar 60 km di barat laut Goma, merupakan jantung produksi coltan dunia. Sekitar 15% pasokan global berasal dari wilayah ini. Coltan adalah mineral krusial yang diolah menjadi tantalum untuk komponen ponsel pintar, komputer, hingga perangkat kedirgantaraan.

Ironisnya, kekayaan mineral ini menjadi kutukan bagi warga lokal. Tambang ini telah dikuasai oleh kelompok pemberontak M23 yang didukung Rwanda sejak 2024. PBB menuduh kelompok tersebut menjarah sumber daya Rubaya untuk mendanai pemberontakan mereka terhadap pemerintah pusat di Kinshasa.

Franck Bolingo, seorang penambang di Rubaya, memberikan kesaksian memilukan. "Hujan turun, lalu tanah longsor menyapu orang-orang. Beberapa terkubur hidup-hidup, dan yang lainnya masih terjebak di dalam lubang tambang," tuturnya kepada AFP.

Meskipun DRC memiliki kekayaan mineral luar biasa, kontradiksi ekonomi tetap tajam. Lebih dari 70% penduduk Kongo hidup dengan penghasilan kurang dari US$2,15 (sekitar Rp34.000) per hari, memaksa mereka mempertaruhkan nyawa di lubang-lubang tambang yang tidak stabil demi menyambung hidup. (Al-Jazeera/B-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya