Headline
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.
Kumpulan Berita DPR RI
PERSERIKATAN Bangsa-Bangsa (PBB) menyuarakan peringatan keras terkait situasi kemanusiaan yang semakin memburuk di Jalur Gaza pada awal tahun 2026 ini. Kantor Hak Asasi Manusia (HAM) PBB di Wilayah Palestina yang Diduduki (OPT) menyatakan kengerian atas fakta bahwa pembunuhan warga sipil terus terjadi secara sistematis, meskipun kesepakatan gencatan senjata telah diberlakukan sejak 11 Oktober 2025.
Laporan terbaru yang dirilis pada Jumat (23/1) menyoroti pola kekerasan yang tidak mereda. Puncak kekhawatiran ini muncul setelah insiden pada 21 Januari 2026, sedikitnya 11 warga Palestina tewas dalam serangan Israel, menambah daftar panjang korban jiwa di tengah puing-puing kehancuran yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.
Menurut data yang dihimpun Kementerian Kesehatan Palestina dan diverifikasi oleh PBB, total 477 warga Palestina dilaporkan tewas dalam berbagai serangan Israel sejak gencatan senjata resmi dimulai. Mayoritas dari korban tersebut diidentifikasi sebagai warga sipil yang tidak terlibat dalam kombatan.
Kepala HAM PBB di OPT, Ajith Sunghay, menegaskan bahwa krisis di Gaza jauh dari kata selesai. Ia menyoroti bahwa kematian tidak hanya datang dari peluru atau rudal, tetapi juga dari dampak blokade bantuan kemanusiaan.
"Krisis di Gaza masih belum berakhir. Setiap hari orang-orang tewas, baik dalam serangan Israel maupun akibat pembatasan akses masuk bantuan kemanusiaan. Pengungsian paksa menyebabkan kematian akibat cuaca dingin dan tertimpa bangunan yang runtuh. Jurnalis Palestina terbunuh, dan jurnalis asing masih dilarang masuk Gaza," tegas Sunghay.
PBB merinci sebaran korban jiwa berdasarkan lokasi dan penyebab kematian, menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza saat ini, bahkan di area yang jauh dari garis demarkasi militer.
| Kategori Insiden | Detail Korban |
|---|---|
| Jauh dari Garis Kuning | 216 tewas (termasuk 46 anak & 28 perempuan) |
| Sekitar Garis Kuning | 167 tewas (termasuk 26 anak & 17 perempuan) |
| Serangan Drone (UAV) | 87 tewas (termasuk 12 anak & 7 perempuan) dalam 126 serangan |
| Faktor Kemanusiaan | 9 anak meninggal akibat hipotermia |
Salah satu sorotan utama dalam laporan tersebut adalah tingginya aktivitas pesawat tanpa awak atau UAV Israel. Tercatat ada 126 serangan drone yang dilaporkan di seluruh Gaza, yang secara spesifik menargetkan pengungsian internal dan bangunan tempat tinggal.
Selain serangan udara, operasi militer darat juga kerap terjadi di wilayah barat garis penarikan pasukan atau yang disebut sebagai "garis kuning". Operasi ini tidak hanya memakan korban jiwa tetapi juga menghancurkan sisa-sisa bangunan tempat tinggal, memaksa warga sipil untuk terus berpindah di tengah musim dingin yang ekstrem.
PBB mendesak komunitas internasional untuk tidak menutup mata terhadap pelanggaran yang terus terjadi ini. "Kini waktunya bagi komunitas internasional untuk meningkatkan dukungan dan tekanan guna menghentikan pertumpahan darah dan memajukan pendekatan berbasis hak untuk pemulihan dan rekonstruksi," pungkas pernyataan resmi tersebut. (Ant/Wafa/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved