Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SALAH satu festival budaya terbesar di Australia, Adelaide Festival, kini berada di ambang kehancuran. Kekacauan ini dipicu keputusan dewan festival untuk mencoret penulis terkemuka Australia-Palestina, Dr. Randa Abdel-Fattah, dari daftar pembicara Writers' Week. Keputusan tersebut memicu eksodus massal para sastrawan dan tokoh dunia.
Hingga Selasa (13/1), sedikitnya 180 penulis menyatakan mundur dari acara yang dijadwalkan mulai akhir Februari ini. Nama-nama besar seperti mantan Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, penulis Inggris Zadie Smith, jurnalis Masha Gessen, hingga novelis legendaris Australia Helen Garner, turut membatalkan kehadiran mereka sebagai bentuk solidaritas.
Krisis ini berujung pada pengunduran diri empat anggota dewan festival, termasuk ketuanya. Direktur Writers' Week, Louise Adler, juga memilih mundur demi membela prinsip kebebasan berpendapat.
"Saya tidak bisa menjadi bagian dari pembungkaman penulis," tegas Adler, yang juga putri dari penyintas Holocaust. Ia menambahkan bahwa pengecualian terhadap Abdel-Fattah adalah "pertanda buruk bagi negara yang kurang merdeka."
Dewan Adelaide Festival menyatakan pencoretan Abdel-Fattah dilakukan demi "sensitivitas" pasca-insiden penembakan massal di festival Yahudi di Bondi Beach pada Desember lalu. Meski dewan menegaskan Abdel-Fattah tidak terkait dengan tragedi itu, mereka menganggap pernyataan masa lalunya mengenai Israel tidak tepat untuk ditampilkan dalam situasi saat ini.
Dr. Randa Abdel-Fattah mengecam keras langkah tersebut. "Ini adalah tindakan rasisme anti-Palestina dan sensor yang terang-terangan dan tidak tahu malu," ujarnya. Ia juga menyebut upaya mengaitkan dirinya dengan serangan Bondi sebagai hal yang "keji".
Abdel-Fattah, yang juga seorang pengacara dan akademisi, memang kerap vokal mengkritik zionisme. Ia sempat menuai kecaman setelah mengunggah gambar paralayang tak lama setelah serangan Hamas 7 Oktober 2023. Gambar yang identik dengan metode serangan tersebut.
Namun, ia mengklarifikasi kepada media ABC, unggahan itu dibuat sebelum ia mengetahui adanya korban jiwa sipil. "Tentu saja, saya tidak mendukung pembunuhan warga sipil," tegasnya.
Perdebatan kian panas setelah Perdana Menteri Australia Selatan, Peter Malinauskus, mendukung pencoretan tersebut. Ia bahkan menuduh Abdel-Fattah munafik karena dua tahun lalu sang penulis pernah meminta jurnalis New York Times, Thomas Friedman, dikeluarkan dari festival yang sama. Abdel-Fattah membantah tuduhan itu dan menyatakan bahwa kasus Friedman berbeda karena terkait retorika yang menyamakan bangsa Arab dengan hama.
Dampak dari boikot ini sangat masif. Program festival di berbagai sektor kini terancam lumpuh total. Pengacara Abdel-Fattah, Michael Bradley, telah mengirimkan surat tuntutan kepada dewan terkait pelanggaran hak asasi manusia, meski belum memutuskan untuk menempuh jalur hukum formal.
Meskipun Abdel-Fattah sempat menuntut permintaan maaf dan pemulihan statusnya pekan lalu, kini ia merasa acara tersebut sudah melewati "titik tanpa harapan."
"Satu-satunya warga Palestina yang mereka toleransi adalah mereka yang diam dan tak terlihat," pungkas Abdel-Fattah.
Direktur Eksekutif Festival, Julian Hobbe, menyatakan pihaknya tengah menavigasi "momen kompleks yang belum pernah terjadi sebelumnya" dan akan segera membagikan pembaruan lebih lanjut. (BBC/Z-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved