Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Tiongkok Bangun PLTA Tercanggih di Sungai Yarlung Tsangpo Himalaya

Ferdian Ananda Majni
17/12/2025 22:58
Tiongkok Bangun PLTA Tercanggih di Sungai Yarlung Tsangpo Himalaya
Ilustrasi.(Freepik)

RATUSAN mil dari garis pantai Tiongkok yang padat, tikungan tajam di sungai terpencil di kawasan Himalaya kini menjadi pusat perhatian proyek infrastruktur paling ambisius sekaligus paling kontroversial yang pernah dirancang Beijing.

Di lokasi ini, sistem pembangkit listrik tenaga air senilai sekitar US$168 miliar direncanakan menghasilkan listrik melampaui pembangkit mana pun di dunia. 

Proyek tersebut dipandang sebagai lompatan strategis bagi Tiongkok, yang tengah mempercepat transisi menuju kendaraan listrik dan teknologi kecerdasan buatan yang menuntut pasokan energi masif.

Presiden Tiongkok Xi Jinping awal tahun ini secara langsung meminta agar proyek tersebut dimajukan secara tegas, sistematis dan efektif saat melakukan kunjungan langka ke Tibet, wilayah yang terus diperketat pengawasannya oleh Beijing atas nama pembangunan dan stabilitas.

Para pakar menyebut sistem PLTA di hilir Sungai Yarlung Tsangpo sebagai pencapaian teknik yang belum pernah ada. 

Dengan memanfaatkan perbedaan ketinggian sekitar 2.000 meter melalui terowongan di dalam pegunungan, proyek ini memungkinkan pemanfaatan salah satu sungai utama di kawasan yang dikenal sebagai menara air Asia, sejalan dengan meningkatnya fokus Tiongkok pada keamanan air.

Secara global, proyek ini berpotensi membantu upaya mitigasi perubahan iklim dengan mengurangi ketergantungan Tiongkok pada batu bara. Namun, pembangunannya juga memicu kekhawatiran akan rusaknya ekosistem langka dan terganggunya permukiman masyarakat adat.

Puluhan juta penduduk di India dan Bangladesh bergantung pada aliran sungai yang sama. Para ahli menilai dampak ekologis di hilir, termasuk terhadap perikanan dan pertanian, belum dikaji secara memadai.

Media India bahkan menyebut proyek ini sebagai potensi bom air, terlebih karena lokasinya dekat perbatasan Tiongkok-India yang disengketakan, menjadikannya potensi titik panas baru antara dua negara bersenjata nuklir.

Meski taruhannya besar, detail proyek tetap tertutup rapat. Minimnya transparansi menambah pertanyaan atas proyek yang menunjukkan kapasitas teknis luar biasa Tiongkok, tetapi juga risiko lintas batas yang luas.

Petunjuk desain yang diperoleh dari dokumen resmi, riset ilmiah, dan analisis sumber terbuka menunjukkan sistem kompleks yang mencakup bendungan, waduk, serta rangkaian pembangkit listrik bawah tanah yang dihubungkan terowongan, memanfaatkan turunan ketinggian ekstrem Sungai Yarlung Tsangpo.

"Ini sistem bendungan paling canggih dan inovatif yang pernah ada di planet ini," kata Brian Eyler, direktur Program Energi, Air, dan Berkelanjutan di Stimson Center, Washington. "Ini juga yang paling berisiko dan berpotensi paling berbahaya," tambahnya.

Pemerintah Tiongkok membantah kekhawatiran tersebut. Dalam pernyataan kepada CNN, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyebut proyek itu telah melalui penelitian mendalam selama puluhan tahun dan dilengkapi langkah keselamatan serta perlindungan ekologis untuk mencegah dampak buruk di hilir.

"Sejak persiapan awal dan dimulai proyek secara resmi, pihak Tiongkok selalu menjaga transparansi mengenai informasi yang relevan dan telah menjaga jalur komunikasi terbuka dengan negara-negara hilir," kata kementerian tersebut.

Beijing juga menegaskan proyek ini bertujuan mempercepat pengembangan energi bersih, meningkatkan kesejahteraan lokal, dan menghadapi perubahan iklim.

Namun, analis melihat dimensi lain: proyek ini sejalan dengan upaya Xi Jinping memperkuat keamanan nasional dan kendali di wilayah perbatasan sensitif serta daerah minoritas.

"Jika Anda menghubungkan titik-titik pembangunan infrastruktur Tiongkok di Himalaya, terutama daerah perbatasan dengan India di Tibet, lokasinya sangat strategis," kata Rishi Gupta dari Asia Society Policy Institute.

"Proyek ini selaras dengan tujuan Tiongkok yang lebih luas untuk memanfaatkan sumber daya alamnya guna mengonsolidasikan kendali atas wilayah-wilayah penting seperti Tibet dan perbatasannya," lanjutnya.

Perebutan Kekuasaan di Himalaya

Sungai Yarlung Tsangpo, sungai utama tertinggi di dunia, mengalir dari gletser Himalaya melintasi dataran tinggi Tibet sebelum berbelok tajam di wilayah yang dikenal sebagai Great Bend.

Di titik ini, sungai kehilangan ketinggian sekitar 2.000 meter dalam jarak 50 kilometer. Ini potensi energi yang diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 300 miliar kilowatt-jam per tahun, tiga kali output Bendungan Tiga Ngarai.

Pengembangan PLTA di wilayah ini, menurut mantan ketua PowerTiongkok Yan Zhiyong bahwa bukan sekadar proyek energi, melainkan juga bagian dari strategi keamanan nasional.

Citra satelit dan dokumen perusahaan menunjukkan pembangunan infrastruktur pendukung telah berlangsung, termasuk jalan, jembatan, fasilitas bahan peledak, serta relokasi penduduk.

Risiko sangat Besar

Sejarah pembangunan bendungan raksasa Tiongkok, termasuk Bendungan Tiga Ngarai, menunjukkan manfaat energi besar sekaligus dampak sosial dan ekologis signifikan.

Great Bend terletak di kawasan ngarai terdalam dunia dan cagar alam nasional dengan keanekaragaman hayati luar biasa.

"Tikungan Besar Yarlung Tsangpo adalah salah satu fenomena geologi dan ekologi paling luar biasa di planet ini," kata Ruth Gamble dari Universitas La Trobe.

Para ilmuwan dan kelompok HAM memperingatkan bahwa proyek ini berisiko merusak habitat langka dan melanggar aturan perlindungan alam.

Kenangan tetap ada

Puluhan ribu penduduk lokal, termasuk komunitas adat Monpa dan Lhoba, berpotensi direlokasi. Pemerintah Tiongkok mengakui perlunya pemindahan komunitas dan pembangunan permukiman baru.

"Pindah membawa orang dan barang-barang, tetapi kenangan tetap tinggal," tulis seorang warga yang direlokasi di media sosial.

Para aktivis memperingatkan risiko penggusuran paksa, rusaknya mata pencaharian, serta masuknya pekerja migran skala besar.

Kekhawatiran bom air di hilir

Di India dan Bangladesh, kekhawatiran berpusat pada potensi manipulasi aliran air. Pejabat India memperingatkan bendungan tersebut dapat menjadi bom air.

"Tiongkok tidak dapat dipercaya. Tidak ada yang tahu apa yang akan mereka lakukan dan kapan," kata Kepala Menteri Arunachal Pradesh, Pema Khandu.

Para ahli menilai bendungan dapat membantu pengendalian banjir jika dikelola transparan, namun juga berisiko besar bila pelepasan air dilakukan mendadak.

"Berbagi data yang transparan dan pengelolaan yang kooperatif akan sangat penting untuk mengurangi perselisihan," kata Anamika Barua dari IIT Guwahati.

Tanpa kerja sama, perlombaan pembangunan bendungan antara Tiongkok dan India berisiko membawa kehancuran bagi sungai lintas batas ini. (CNN/I-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik