Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KETEGANGAN militer di Laut Hitam memuncak, kini berimbas langsung pada kedaulatan wilayah udara Turki. Jet tempur F-16 Turki pada Senin waktu setempat menembak jatuh sebuah pesawat nirawak (drone) yang dinyatakan ‘kehilangan kendali’ dan mendekati wilayah udara Ankara dari arah Laut Hitam.
Kementerian Pertahanan Turki mengonfirmasi bahwa drone tersebut terdeteksi dan dilacak sebagai bagian dari prosedur rutin, sebelum diidentifikasi sebagai kendaraan udara nirawak yang telah kehilangan kendali. Untuk mencegah konsekuensi yang tidak diinginkan, terutama di wilayah berpenduduk akhirnya ditembak jatuh di area yang aman.
Insiden ini terjadi hanya berselang beberapa hari setelah kapal kargo milik Turki rusak akibat serangan udara Rusia di dekat pelabuhan Odessa, Ukraina. Kapal tersebut terkena imbas serangan hanya beberapa jam setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menyerukan de-eskalasi.
Pekan lalu, Erdogan telah melontarkan peringatan keras agar Laut Hitam tidak diubah menjadi area konfrontasi antara Rusia dan Ukraina. Peringatan tersebut dikeluarkan menyusul serangkaian serangan, termasuk klaim Ukraina atas penargetan kapal tanker ‘armada bayangan’ yang digunakan Rusia untuk ekspor minyaknya di lepas pantai Turki. Serangan-serangan ini telah meningkatkan kekhawatiran tentang eskalasi yang mengkhawatirkan (worrying escalation)
NATO Siaga
Pihak Kementerian Pertahanan Turki menambahkan bahwa jet tempur F-16 Turki dan NATO sempat disiagakan (on alert) untuk memastikan keamanan wilayah udara Turki saat mendeteksi keberadaan drone tersebut. Hingga kini, pihak berwenang Turki belum merinci jenis maupun asal drone yang ditembak jatuh itu.
Penembakan jatuh drone ini menjadi sinyal paling tegas dari Turki dalam upayanya menjaga stabilitas regional dan melindungi kedaulatannya dari luapan konflik Rusia-Ukraina.
Meskipun memiliki hubungan dekat dengan Kyiv dan Moskow, posisi geografis Turki, yang berhadapan langsung dengan Ukraina dan Krimea yang dianeksasi, menempatkannya di garis depan potensi bahaya eskalasi. Insiden ini menegaskan bahwa ancaman dari perang di Laut Hitam kini bukan lagi ancaman teoritis, melainkan ancaman fisik yang nyata di depan pintu Turki. (Daily Sabah/Times of Israel)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved