Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri Thailand Anutin Charnvirakul secara terbuka mengakui adanya kekurangan dalam penanganan banjir besar yang melanda negara tersebut. Pengakuan ini muncul di tengah kritik publik yang meluas, saat jumlah korban tewas melonjak menjadi 170 orang.
Pada Sabtu (29/11), PM Anutin Charnvirakul mengakui kekurangan pemerintah dalam pengelolaan banjir. Saat mengunjungi daerah terdampak, ia juga meminta maaf kepada masyarakat "karena pemerintah tidak mampu merawat dan melindungi mereka".
Kritik publik terhadap respons pemerintah semakin meningkat di tengah kerusakan parah dan upaya bantuan yang terus dilakukan. Imbasnya, dua pejabat lokal telah diberhentikan sementara atas dugaan kegagalan mereka dalam manajemen banjir.
Sementara itu, upaya pengiriman bantuan dan pembersihan area terdampak terus dilakukan oleh pihak berwenang termasuk kompensasi hingga dua juta baht bagi keluarga yang kehilangan anggota keluarga.
Kementerian Kesehatan Masyarakat menyatakan, angka kematian bertambah delapan orang dari Sabtu (29/11/2025), dengan 102 orang lainnya menderita luka-luka. Provinsi Songkhla menjadi wilayah dengan korban tewas tertinggi, mencapai 131 jiwa.
“Provinsi Songkhla mencatat jumlah korban tewas tertinggi, yaitu 131,” demikian laporan Kementerian Kesehatan Masyarakat seperti dikutip dari Al Jazeera, Senin (1/12/2025).
Hat Yai, kota terbesar di Songkhla, mencatat curah hujan ekstrem sebesar 335 mm pada Jumat lalu, yang disebut sebagai curah hujan tertinggi dalam satu hari dalam 300 tahun.
Meskipun musim hujan tahunan (biasanya Juni hingga September) rutin membawa hujan lebat dan memicu tanah longsor serta banjir bandang, kondisi kini diperparah oleh badai tropis. Akibatnya, jumlah korban banjir di Indonesia dan Thailand tercatat sebagai yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir di kedua negara tersebut.
Perubahan iklim menjadi pemicu utama perubahan pola badai, termasuk peningkatan durasi dan intensitas musim. Dampaknya terlihat pada curah hujan yang lebih tinggi, memicu banjir bandang, dan menghasilkan hembusan angin yang lebih kencang. (I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved