Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Mensinergikan Visi ASEAN 2045 dan Modernisasi Tiongkok

Heryadi
22/11/2025 16:53
Mensinergikan Visi ASEAN 2045 dan Modernisasi Tiongkok
Pekan ASEAN-Tiongkok 2025 dibukan pekan ini di Fuzhou, Fujian.(Dok.Istimewa)


Pekan ASEAN-Tiongkok 2025 dibuka pekan ini di Fuzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok, menandai upaya baru untuk memperdalam keterlibatan ekonomi, budaya, dan strategis antara Tiongkok dan Asia Tenggara di tengah transformasi regional yang pesat.

Hadir dalam acara ini para pejabat senior dari negara-negara anggota ASEAN, Tiongkok, organisasi regional, serta perwakilan dari kalangan bisnis, akademisi dan media. 

Sejumlah program inisiatif unggulan juga diselenggarakan, termasuk Laporan Kerja Sama Perdagangan & Investasi ASEAN-Tiongkok (2024–2025), Inisiatif Bersama Membangun Repositori Kekayaan Intelektual Budaya Digital ASEAN-Tiongkok, dan Platform Bisnis Lintas Batas untuk Perdagangan Produk Kelautan Tiongkok-ASEAN.

Berbicara pada upacara pembukaan, para petinggi Provinsi Fujian menyoroti peran jangka panjang provinsi tersebut sebagai gerbang kerja sama maritim dengan Asia Tenggara. Wakil Sekretaris Komite Provinsi Fujian CPC, Guo Ningning, mengatakan bahwa acara tersebut mencerminkan akar yang dalam dan visi yang berwawasan ke depan dari hubungan ASEAN-Tiongkok.

“Kita berada di momen di mana kerja sama tidak hanya dibutuhkan, tetapi juga dituntut oleh rakyat kita,” ujarnya. “Fujian akan terus menjadi jembatan yang menghubungkan kita dalam perdagangan, budaya, dan inovasi.”

MEMBANGUN KOMUNITAS
Sekretaris Jenderal ASEAN-China Centre (ACC), Shi Zhongjun, mengatakan sejak terjalinnya hubungan dialog pada 1991, kedua belah pihak telah bersama-sama mengatasi krisis keuangan, tsunami, dan covid-19. Dipandu oleh keterbukaan, saling menguntungkan, dan kerja sama yang saling menguntungkan, sembilan negara ASEAN telah sepakat untuk membangun komunitas dengan masa depan bersama dengan Tiongkok, termasuk Timor-Leste.

“Volume perdagangan kita melonjak dari kurang dari $8 miliar menjadi $982,3 miliar pada tahun 2024, menjadikan kita mitra dagang terbesar satu sama lain. Baru-baru ini, para pemimpin menyaksikan penandatanganan Protokol Peningkatan FTA 3.0 Tiongkok-ASEAN, yang menandai perjalanan baru bagi kerja sama ekonomi dan perdagangan. Proyek-proyek penting seperti Kereta Api Tiongkok-Laos dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung sedang beroperasi,” ujarnya.

Dalam pidato utamanya, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN Nararya S. Soeprapto menekankan keselarasan antara visi jangka panjang ASEAN dan tujuan modernisasi Tiongkok. 

“Seiring ASEAN bergerak maju menuju Visi Komunitas ASEAN 2045, dan Tiongkok melanjutkan langkah modernisasinya, kedua belah pihak memiliki komitmen bersama untuk perdamaian, kesejahteraan, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya. “ASEAN-Tiongkok bercita-cita untuk mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, didorong oleh inovasi, dan bermanfaat bagi semua.”

Ia merujuk pada keunggulan demografi ASEAN, dengan lebih dari 682 juta penduduk dan sepertiganya berusia di bawah 35 tahun, menyebutnya sebagai fondasi untuk menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan dan inovasi.

DELEGASI INDONESIA
Delegasi Indonesia yang hadir dalam acara ini dipimpin oleh Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Yorrys Raweyai. Dalam sambutannya ia menekankan Pekan ASEAN Tiongkok sebagai agenda penting dalam mempererat kerjasama antarnegara di berbagai bidang. 

Masa depan dunia adalah kehidupan yang akan dinikmati bersama, bukan dinikmati oleh pihak tertentu, negara tertentu atau komunitas global tertentu. Pertemuan ini tidak hanya mempererat hubungan ASEAN dengan Tiongkok, tapi juga mempromosikan nilai-nilai universal, seperti kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan.

Pertemuan ini tidak hanya mempererat hubungan ASEAN dengan Tiongkok, melainkan juga mempromosikan nilai-nilai universal, seperti kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Sebagai perwakilan daerah di Indonesia, kami meyakini pertemuan ini akan melanjutkan dan melestraikan kesepahaman dan komitmen kerja sama dalam memperkuat ASEAN dan Tiongkok untuk kepentingan rakyat di negara masing-masing.

DIALOG MEDIA
Salah satu program Pekan ASEAN Tiongkok kali ini berbentuk dialog media dan thinktank. Sejumlah perwakilan media dan thinktank dari Asia Tenggara dan China duduk bersama dan membahas beberapa isu kritis sambil menikmati teh melati Fuzhou yang terkenal. 

Dalam pembahasan potensi ASEAN China Free Trade Area 3.0, Direktur Komunikasi dan Kajian Strategis Gentala Institute, Christine Susanna Tjhin, mengatakan bahwa salah satu kekuatan di balik ACFTA adalah pendalaman dan perluasan integrasi regional, terutama mekanisme regional yang berbasis pada ASEAN. 

Platform-platform tersebut telah terbukti tangguh dan membuat kawasan mampu bertahan di masa-masa sulit akibat pandemi dan kini, tekanan tarif unilateral dari AS. Negosiasi tarif bilateral baru-baru ini berpotensi melemahkan pengaturan multilateral yang ada. Untuk itu sangat penting untuk mempertahankan komitmen yang ada guna memperdalam dan memperluas integrasi ekonomi regional.

Sebagian dari peluang baru ini, terutama dengan peran digitalisasi yang menonjol, adalah peningkatan rantai pasokan dan industri, terutama yang melibatkan UMKM. Salah satunya adalah sistem pembayaran digital. Indonesia dan Tiongkok baru saja menandatangani perjanjian untuk mengizinkan penggunaan QRIS (sistem pembayaran QR Indonesia) di China. 

QRIS memiliki peran penting dalam mendukung UMKM di Indonesia dan telah digunakan secara luas di beberapa negara besar di Asia Tenggara. Oleh karena itu, masuknya perjanjian dengan China akan membuka peluang untuk lebih mendukung UMKM.

SINKRONISASI ATURAN
Aspek lain yang krusial untuk mewujudkan manfaat nyata dalam hal ini adalah penyelarasan kebijakan dan sinkronisasi aturan, terutama dalam pemanfaatan teknologi digital mutakhir dan AI.

ASEAN telah menetapkan Pedoman Tata Kelola dan Etika AI yang ramah bisnis, yang agak berbeda dengan versi Uni Eropa yang sarat politik. Pedoman ASEAN lebih pragmatis dan berfokus pada menghasilkan manfaat nyata bagi negara-negara anggota.  

Sudah saatnya untuk menetapkan pedoman serupa dalam kerangka kerja ASEAN-China, dengan memanfaatkan kerangka kerja kelembagaan yang kuat yang telah kita bangun antara ASEAN dan Tiongkok, di mana dialog untuk pedoman dan tata kelola AI yang baik antara para mitra dapat dilakukan. (E-2)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Heryadi
Berita Lainnya