Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

Rahang Fosil Berusia 1,4 Juta Tahun Ungkap Kerabat Manusia yang Belum Pernah Ditemukan

Rani Siahaan
07/2/2025 16:42
Rahang Fosil Berusia 1,4 Juta Tahun Ungkap Kerabat Manusia yang Belum Pernah Ditemukan
Rahang kerabat manusia(LiveScience)

SEBUAH studi terbaru mengungkap penemuan mengejutkan: rahang fosil berusia 1,4 juta tahun yang ditemukan di Afrika Selatan ternyata milik kerabat manusia yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya.

Fosil ini berasal dari genus Paranthropus, kelompok hominin yang dijuluki “Manusia Pemecah Kacang” karena rahang dan gigi gerahamnya yang besar.

Namun, spesies Paranthropus baru ini justru menunjukkan ciri berbeda—rahang dan gigi yang lebih kecil dari biasanya.

Pada masa hidup Paranthropus, Bumi dihuni oleh beberapa jenis hominin, spesies yang lebih dekat secara evolusioner dengan manusia dibandingkan simpanse.

Genus Homo—yang mencakup manusia modern—muncul sekitar 2,8 juta tahun lalu, sementara Homo sapiens baru muncul 300.000 tahun yang lalu.

Ini berarti spesies awal Homo sempat hidup berdampingan dengan Paranthropus. Hingga kini, ilmuwan mengenal tiga spesies ParanthropusP. aethiopicusP. boisei, dan P. robustus, yang hidup antara 2,7 juta hingga 1 juta tahun lalu.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan memfokuskan perhatian pada fosil rahang berusia 1,4 juta tahun yang dikenal dengan kode SK 15.

Fosil ini pertama kali ditemukan pada 1949 di gua Swartkrans, Afrika Selatan—situs yang juga menghasilkan banyak fosil Paranthropus dan spesimen awal Homo.

“Swartkrans adalah situs kunci untuk memahami keragaman hominin dan interaksi antarspesies pada masa lalu,” ujar Clement Zanolli, paleontropolog dari Universitas Bordeaux, Prancis, yang memimpin studi ini.

Awalnya, para ilmuwan mengira SK 15 adalah milik spesies yang belum dikenal bernama Telanthropus capensis. Namun, sejak 1970-an, banyak peneliti berpendapat bahwa fosil tersebut milik Homo ergaster, spesies manusia purba yang lebih ramping.

Untuk menguji hipotesis ini, Zanolli dan timnya memindai SK 15 menggunakan sinar-X dan membuat model 3D untuk menganalisis struktur internal dan eksternalnya secara detail.

Hasilnya mengejutkan: SK 15 tidak cocok dengan ciri-ciri Homo ergaster, melainkan menunjukkan karakteristik Paranthropus yang sebelumnya belum diketahui.

“Ini adalah pertama kalinya sejak 1970-an kita mengidentifikasi spesies baru dari genus Paranthropus,” kata Zanolli.

Tim peneliti menganalisis struktur dalam gigi SK 15, khususnya bagian dentin—jaringan tulang keras di bawah enamel.

Mereka menemukan bahwa pola ini berbeda dari semua spesimen Homo yang pernah ditemukan, memastikan bahwa fosil ini bukan milik Homo ergaster.

Berdasarkan bentuk rahang serta ukuran dan struktur mahkota dan akar gigi, SK 15 dipastikan berasal dari Paranthropus. Namun, rahang dan giginya yang jauh lebih kecil membedakan fosil ini dari spesies Paranthropus yang telah dikenal. Karena perbedaan tersebut, para peneliti menyimpulkan bahwa fosil ini mewakili spesies baru yang mereka beri nama Paranthropus capensis.

Penemuan ini menunjukkan bahwa sekitar 1,4 juta tahun lalu, Afrika Selatan menjadi rumah bagi setidaknya dua spesies ParanthropusP. robustus dan P. capensis. Temuan ini tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang keragaman hominin, tetapi juga membuka kemungkinan baru tentang bagaimana spesies-spesies ini berinteraksi satu sama lain. (LiveScience/Z-10)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Gana Buana
Berita Lainnya