PERINGATAN satu tahun insiden penembakan remaja kulit hitam, Michael Brown, 18, di Ferguson, Amerika Serikat (AS), berujung rusuh. Aksi warga yang semula damai berubah mencekam. Satu orang terluka akibat tembakan polisi dan langsung dilarikan ke rumah sakit. Menurut kepala kepolisian St Louis County, Jon Belmar, polisi melepaskan tembakan setelah dua kelompok saling menembak lebih dulu. Seorang laki-laki berlari ke arah mobil van polisi yang berisi empat detektif berpakaian preman. Si laki-laki menembaki mobil lalu polisi membalas tembakan itu. Polisi kemudian mengejar penembak itu dengan berlari sembari menembak lagi.
"Keempat petugas kepolisian itu menembaki pelaku dan pelaku itu jatuh dalam kondisi kritis dan tidak stabil. Dia di rumah sakit untuk dioperasi," jelas Belmar. Belmar juga menolak menyebut ras para polisi yang terlibat dalam penembakan. Keempat detektif itu hanya disebut berpengalaman 6-12 tahun dan telah dinonaktifkan. Belmar juga menyatakan, "Jumlah tembakan memang sangat banyak dan ada sekitar 50 butir peluru yang dilepaskan saat dua kelompok mulai saling tembak."
Menurut dia, orang-orang yang mulai saling tembak itu bukanlah kelompok yang menggelar demonstrasi melainkan 'kriminalis'. "Mereka sekelompok kecil yang berniat membuyarkan aksi damai," kata Belmar. Pada Minggu (9/8), sekitar 300 orang berkumpul untuk mengenang mendiang Michael Brown dengan mengheningkan cipta selama 4,5 menit. Lama waktu tersebut merupakan lamanya tubuh Brown tersungkur di jalan sebelum diamankan. Warga lalu melepaskan dua ekor merpati.
Michael Brown ditembak polisi berkulit putih bernama Darren Wilson pada 9 Agustus 2014. Dari kasus tersebut, Wilson belum juga didakwa sebagai tersangka. Hal itu menuai protes skala nasional dan mengakibatkan kerusuhan. Polisi pun dianggap berat sebelah dalam serangkaian kasus kematian orang berkulit hitam.
Di New York, beberapa orang juga berkumpul di Union Square sebagai bentuk solidaritas untuk peringatan di Ferguson. Sebelumnya, sekitar 100 orang berkumpul di Brooklyn untuk menentang aksi penembakan Brown. Setelah kasus penembakan Brown, serangkaian insiden yang dinilai rasial juga terjadi. Yang terbaru Jumat (7/8) lalu, saat seorang polisi Texas menembak seorang mahasiswa pemain bola, Christian Taylor, 19.
Kepala organisasi National Association for the Advancement of Colored People (NAACP) menyebut langkah perubahan legislatif lamban. Presiden NAACP Cornell William Brooks mendesak pengesahan undang-undang urusan rasialisme oleh polisi. Dia pun meminta pemasangan kamera di tubuh polisi, jaksa independen, dan pelatihan ulang departemen polisi AS.