Jumat 20 Mei 2022, 09:13 WIB

Taiwan Minta WHO Lihat Prestasinya Redam Covid-19

Cahya Mulyana | Internasional
Taiwan Minta WHO Lihat Prestasinya Redam Covid-19

AFP
Suasana rumah sakit Taiwan

 

Dua tahun lebih pandemi covid-19 menyerang penduduk dunia dengan lebih dari 510 juta kasus yang dikonfirmasi dan lebih dari 6,25 juta kematian. Taiwan berhasil keluar dari pandemi virus ini dengan sejumlah terobosan namun tidak diakui organisasi kesehatan dunia (WHO).

Taiwan yang memiliki populasi 23,5 juta telah diakui secara luas. Pada 10 Mei 2022, sekitar 390.000 kasus yang dikonfirmasi dan 931 kematian telah dilaporkan di Taiwan. Berkat upaya bersama pemerintah dan masyarakat, laju pertumbuhan ekonomi Taiwan di tahun 2021 mencapai 6,45%.

Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Republik Tiongkok (Taiwan) Shih-Chung Chen mengatakan kunci kesuksesan negaranya melawan covid-19 salah satunya karena sistem Asuransi Kesehatan Nasional (NHI) yang diluncurkan pada tahun 1995. Sistem ini telah memainkan peran penting dalam memerangi pandemi.

"Sistem NHI menyediakan layanan kesehatan yang komprehensif dan berkualitas tinggi, mencapai cakupan universal (99,9%). Sistem perawatan kesehatan dan NHI Taiwan yang kuat telah melindungi masyarakat dan memastikan stabilitas sosial selama pandemi covid-19," katanya dalam keterangan resmi yang diterima Media Indonesia, Jumat (20/5).

Selain itu, kata dia, database NHI yang komprehensif dan sistem informasi terkini lainnya sangat penting dalam memastikan keberhasilan penerapan teknologi digital untuk pencegahan penyakit. Sistem perawatan kesehatan Taiwan menduduki peringkat kedua di dunia pada tahun 2021 oleh CEOWorld.

Pada tahap awal pandemi Covid-19 pada Februari 2020, demi mengurangi risiko penularan masyarakat, pemerintah menerapkan Sistem Karantina Masuk dengan mengintegrasikan database NHI, imigrasi, dan bea cukai untuk memungkinkan analisis big data.

"Data diperkenalkan ke Sistem Pelacakan Pagar Digital, yang menggunakan sistem penentuan posisi pada ponsel untuk memantau keberadaan orang-orang yang dikarantina atau diisolasi di rumah," ungkapnya.

Untuk mendigitalkan layanan perawatan kesehatan, kata Chen, Aplikasi NHI Express diluncurkan. Aplikasi ini menawarkan fitur seperti data vaksinasi, data kesehatan pribadi, catatan medis, catatan vaksinasi covid-19, dan hasil tes.

"Taiwan bergabung dengan program Sertifikat covid Digital UE pada akhir tahun 2021, dan mengizinkan warganya untuk mengajukan sertifikat vaksinasi digital dan sertifikat tes. Warga Taiwan dapat memasuki 64 negara, termasuk negara anggota UE, dengan menggunakan sertifikat tersebut," terangnya.

Dia juta mengatakan Taiwan telah mengadopsi pendekatan triase, membuat pasien covid-19 yang lebih ringan menjalani perawatan di rumah dan memesan perawatan di rumah sakit untuk pasien kelompok berisiko tinggi, seperti kasus sedang dan parah serta lansia. Selama perawatan di rumah, orang dapat mengakses konsultasi medis darurat melalui aplikasi seluler.

"Jaringan apoteker dan apotek komunitas telah disatukan untuk memberikan konsultasi dan memberikan obat-obatan. Hingga akhir April 2022, sekitar 80% masyarakat di Taiwan telah menerima vaksin dosis utama covid-19, sementara 60% telah menerima dosis booster," paparnya.

Namun dia menyayangkan, Majelis Kesehatan Dunia (WHA) tidak melihat prestasi Taiwan tersebut. Buktinya pertemuan WHA ke-75 yang diadakan pada Mei mengundang Taiwan.

"Untuk memastikan Taiwan tidak ketinggalan dan tidak ada gap coverage dalam kesehatan global, Taiwan terus berupaya untuk berpartisipasi dalam WHA tahun ini secara profesional dan pragmatis, sehingga dapat memberikan kontribusi sebagai bagian dari upaya global untuk mewujudkan visi WHO," paparnya.

Pihaknya mendesak WHO dan pihak terkait untuk mendukung diterimanya Taiwan dalam WHO dan mengizinkan Taiwan untuk berpartisipasi penuh dalam pertemuan, mekanisme, dan kegiatan WHO. Taiwan akan terus bekerja dengan seluruh dunia untuk memastikan bahwa semua menikmati hak asasi manusia atas kesehatan sebagaimana diatur dalam Konstitusi WHO.

"Dalam semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030 Perserikatan Bangsa-Bangsa, tidak ada seorang pun yang tertinggal," pungkasnya. (OL-12)

Baca Juga

AFP/Benoit PEYRUCQ

Pelaku Teror Paris Divonis Seumur Hidup

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 30 Juni 2022, 05:30 WIB
Salah Abdeslam, warga Prancis keturunan Maroko itu ditangkap hidup-hidup oleh kepolisian Prancis, empat bulan setelah aksi teror di Paris...
AFP/Sergei SUPINSKY

Ukraina Putuskan Hubungan dengan Suriah karena Akui Negara Separatis

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 30 Juni 2022, 04:52 WIB
Suriah memicu kemarahan Ukraina setelah menjadi negara pertama di dunia selain Rusia yang mengakui kemerdekaan kedua negara separatis itu,...
AFP/LOUAI BESHARA

Suriah Akui Kemerdekaan Dua Negara Separatis Ukraina

👤Basuki Eka Purnama 🕔Kamis 30 Juni 2022, 04:44 WIB
"Republik Arab Suriah memutuskan untuk mengakui kemerdekaan dan kedaulatan Republik Rakyat Lugansk dan Republik Rakyat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya