Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Dua Orang Tewas dalam Penembakan di Kampus UCLA

Ihs/I-1
03/6/2016 08:34
Dua Orang Tewas dalam Penembakan di Kampus UCLA
(AFP/David McNew)

DUA orang tewas dalam insiden penembakan yang terjadi di Universitas California Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat (AS), Rabu atau Kamis (2/6) WIB.

Insiden itu menyebabkan kampus tersebut ditutup dan pasukan keamanan dikerahkan secara besar-besaran.

Sebuah SD dan SMP yang berada di dekat kampus juga ditutup.

Ratusan petugas keamanan, tim taktis, juga agen federal berkumpul di kampus yang mahasiswanya sedang mempersiapkan diri untuk ujian akhir itu.

Kepala Polisi Los Angeles (LA), Charlie Beck, mengatakan kedua korban ditemukan dengan luka tembak di dalam kampus.

Setidaknya tiga bekas tembakan dan sebuah senjata ditemukan di tempat kejadian.

"Sekitar pukul 10.00 ini sebuah pembunuhan dan bunuh diri terjadi di fasilitas teknik mesin sebelah selatan Kampus UCLA" ujar Beck kepada wartawan.

Pihak otoritas menolak memberikan informasi yang terkait dengan korban.

Namun, beberapa laporan mengatakan seorang mahasiswa menembak profesor sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri.

Profesor itu diketahui bernama William Scott Klug yang mengajar teknik mesin dan penerbangan.

Sementara itu, pelaku merupakan mahasiswa pascasarjana.

Sampai saat ini pihak otoritas masih menyelidiki apa yang menyebabkan insiden itu.

Wakil Rektor UCLA mengatakan kegiatan di kampus akan kembali berjalan normal hari ini dan ujian akhir yang dijadwalkan minggu depan tidak akan terganggu.

Pelayanan konseling juga diberikan untuk 40 ribu mahasiswa dan para staf kampus setelah kepanikan ketika insiden itu terjadi.

Menteri Luar Negerti, Retno Marsudi, mengatakan tidak ada WNI yang menjadi korban dalam insiden penembakan di Kampus UCLA itu.

Sebagai informasi, di UCLA terdapat 87 mahasiswa asal Indonesia serta 1 dosen.

"Dari laporan yang saya terima dari KJRI di Los Angeles tidak ada WNI kita yang jadi korban," ujar Menlu dalam perjalanannya ke Paris, Prancis, untuk mengikuti persiapan Konferensi Damai Israel-Palestina.

Di AS, setiap tahun sekitar 30 ribu orang tewas karena senjata api.

Namun, kebijakan Presiden AS Barack Obama untuk mengontrol perizinan senjata api banyak ditentang terutama dari simpatisan Partai Republik.

Di 'Negeri Paman Sam', warga sipil memang boleh memiliki senjata api.

Hal itu sesuai dengan Undang-Undang Milisi Tahun 1792.

Aturannya, senjata api hanya boleh dimiliki seseorang di atas usia 21 tahun dan dibeli dari penjual resmi.

Namun faktanya, warga begitu mudah memilikinya, termasuk membelinya melalui internet.(AFP/Ihs/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zen
Berita Lainnya