Kamis 30 Desember 2021, 09:00 WIB

Ekonomi Masih Lemah, India Memperlambat Normalisasi

Fetry Wuryasti | Internasional
Ekonomi Masih Lemah, India Memperlambat Normalisasi

AFP
Logo Bank Sentral India yang disertai dengan Bendera Kebangsaan India.

 

Bank Sentral India kemungkinan akan mulai memperlambat normalisasi pengaturan kebijakan moneternya, sama seperti Tiongkok. Pasalnya, pejabat yang berkepentingan di India, menginginkan kepastian akan pemulihan ekonomi yang terjadi hingga tuntas.

Para pembuat kebijakan bertekad untuk menjaga sikap moneter saat ini untuk mencapai pertumbuhan di masa yang akan datang.

Gubernur Bank Sentral India, Shaktikanta Das mulai menyerukan kebijakan yang terkoordinasi terhadap pandemi, karena Omikron diperkirakan mampu memberi dampak terhadap melambatnya perekonomian mendatang.

Oleh karena itu kebijakan yang akomodatif akan kembali digunakan oleh Bank Sentral India untuk memberikan dukungan yang lebih besar terhadap perekonomian.

"Dibandingkan Bank Sentral lainnya, tampaknya Bank Sentral India belum akan memulai untuk menaikan tingkat suku bunganya. India tengah mempertimbangkan apakah akan melakukan penguncian yang lebih ketat atau tidak," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Kamis (30/12).

Michael Debabrata Patra, Wakil Gubernur Bank Sentral India serta anggota Komite Kebijakan Moneter mengatakan bahwa kurva Phillips mulai terlihat mendatar. Hal ini merupakan sebuah gambaran akan hubungan pekerjaan dengan upah, serta untuk menyimpulkan bahwa kondisi permintaan masih cukup lemah.

Maka Bank Sentral India akan membuat kebijakan yang mempermudah perekonomian dalam kurun waktu beberapa bulan mendatang. Meskipun bank sentral mempertahankan proyeksi pertumbuhan sebesar 9,5% pada tahun 2021, namun mereka memperkirakan adanya fase ekspansi yang mulai melambat menjadi 7,8% pada tahun 2022.

Inflasi akan mulai mengalami kenaikan pada periode Januari–Maret sebelum akhirnya stabil dalam 2 kuartal berikutnya di 5%. Target inflasi berada di 2%–6%, masih menyisakan ruang untuk mendukung pertumbuhan.

Cadangan devisa yang hampir US$650 miliar akan memberikan ruang yang lebih besar bagi pembuat kebijakan untuk melindungi pemulihan ekonomi, khususnya dari volatilitas yang akan datang pada tahun depan, ketika The Fed menaikan tingkat suku bunga.

Bank Sentral India juga sejauh ini akan terus mengawasi kelebihan likuiditas dalam jumlah yang besar di dalam sistem perbankan. Likuiditas diperkirakan akan meningkat sekitar 6 triliun rupee atau US$80 miliar selama tahun fiskal 2023 dan 2024.

Dengan likuiditas sebesar ini, tentu sistem keuangan India akan mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang diperlukan. Namun terlalu besar juga bukan merupakan sesuatu yang baik. Oleh sebab itu menyeimbangkan kembali likuiditas akan menjadi poin penting.

Fokus utamanya, sejauh mana India memastikan likuiditas di pasar tercukupi, memberikan kebijakan yang menopang pertumbuhan ekonomi, dan ruang bagi industri untuk tetap tumbuh dengan bauran kebijakan fiskal dan moneter.

Pemulihan yang tidak merata pada tahun depan akan menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi pelaku pasar dan investor. Namun tentu lebih baik pulih dan tidak merata, daripada tidak ada yang pulih sama sekali.

"Oleh karena itu, perbedaan sikap kebijakan Bank Sentral di berbagai negara pada tahun depan, akan menjadi salah satu poin yang harus diperhatikan. Sebab hal tersebut akan memberi dampak terhadap nilai dari mata uang itu sendiri," kata Nico. (OL-12)

 

Baca Juga

Brian W.J. Mahy / Centers for Disease Control and Prevention / AFP

Portugal Konfirmasi 10 kasus Baru Cacar Monyet, total 49 Kasus

👤Mediaindonesia 🕔Rabu 25 Mei 2022, 21:25 WIB
Angka tersebut menambah total menjadi 49 kasus dan menyamai jumlah infeksi yang terkonfirmasi di negara tetangga,...
AFP/Atta Kenare.

Pembunuhan Kolonel IRGC, Pesan Israel terkait Suriah dan Perjanjian Nuklir?

👤Mediaindonesia.com 🕔Rabu 25 Mei 2022, 21:20 WIB
IRGC mengidentifikasi Khodai hanya sebagai pembela tempat yang disucikan. Ini dikaitkan dengan mereka yang pergi ke Suriah dan memerangi...
Dok World Tourism Forum Institute

Global Tourism Forum (GTF) Hadirkan 81 Pembicara Global

👤Iis Zatnika 🕔Rabu 25 Mei 2022, 21:17 WIB
Sebanyak 81 orang pembicara akan membawakan 35 topik pada Global Tourism Forum (GTF) Annual Meeting 2022 yang akan diselenggarakan di Bali...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya