Kamis 23 September 2021, 15:49 WIB

Pengadilan AS Perintahkan Facebook Rilis Data Anti-Rohingya

Mediaindonesia.com | Internasional
Pengadilan AS Perintahkan Facebook Rilis Data Anti-Rohingya

AFP/Adib Chowdhury
Pengungsi Rohingya

 

Seorang hakim pengadilan federal di Washington D.C, Amerika Serikat memerintahkan Facebook merilis sejumlah data tentang akun yang berhubungan dengan anti-Rohingya untuk mengusut kasus genosida di Myanmar.

Hakim tersebut, diberitakan Reuters, Kamis (23/9), mengkritik Facebook karena gagal memberikan informasi kepada penyelidik untuk menuntut Myanmar atas kejahatan internasional kepada etnis Rohingya, yang merupakan minoritas Islam di negara tersebut.

Facebook sebelumnya menolak memberikan data karena akan melanggar undang-undang layanan komunikasi elektronik dengan membuka komunikasi pengguna.

Sang hakim berargumen unggahan tersebut, yang sudah dihapus, tidak termasuk dalam undang-undang. Tidak membagikan konten tersebut akan "memperburuk tragedi yang menimpa Rohingya".

"Facebook menggunakan selubung hak privasi, yang penuh ironi. Situs berita memiliki bagian yang ditujukan untuk sejarah kotor skandal privasi Facebook," tulis hakim tersebut.

Juru bicara Facebook mengatakan sedang meninjau ulang keputusan tersebut dan "secara sukarela sudah membuka" data ke badan PBB lainnya, Mekanisime Investigasi Independen untuk Myanmar.

Lebih dari 730.000 muslim Rohingya melarikan diri dari negara bagian Rakhine pada Agustus 2017 lalu setelah konflik dengan militer. Pengungsi Rohingya menyatakan ada pembunuhan massal dan pemerkosaan.

Kelompok sayap kanan mendokumentasikan pembunuhan warga dan pembakaran desa.

Otoritas Myanmar mengatakan mereka melawan pemberontak dan membantah melakukan kekejaman yang sistematis.

Penyelidik hak asasi manusia PBB pada 2018 lalu menyatakan Facebook berperan dalam menyebarkan ujaran kebencian yang mengakibatkan kekerasan tersebut.

Investigasi Reuters pada 2018 menemukan lebih dari 1.000 konten ujaran kebencian di Facebook, seperti menyebut Rohingya dan orang Islam sebagai anjing, mendesak mereka ditembak atau dimusnahkan.

Facebook pada tahun itu menyatakan mereka bertindak terlalu lambat untuk mencegah misinformasi dan kebencian di Myanmar. (Ant/OL-12)

Baca Juga

AFP

Ditutup Dua Tahun, Spanyol-Maroko Buka Kembali Perbatasan Darat

👤Nur AivanniĀ  🕔Selasa 17 Mei 2022, 17:26 WIB
Di pos perbatasan Fnideq, senyum menghiasi wajah para pelancong yang menyeberang untuk melihat keluarga mereka di sisi...
Handout / DoD / AFP

Kongres AS akan dengar Kesaksian soal UFO, Pertama dalam 50 Tahun

👤Mediaindonesia 🕔Selasa 17 Mei 2022, 17:00 WIB
Pejabat intelijen pertahanan Amerika Serikat dijadwalkan akan bersaksi di depan Kongres AS pada besok tentang apa yang diketahui pemerintah...
AFP/Kemenlu Rusia.

Hizbullah di Parlemen Libanon Ingatkan Saingannya tidak Bela Israel

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 17 Mei 2022, 15:00 WIB
Raad memimpin blok parlemen yang dipimpin oleh Hizbullah dan terpilih kembali pada Minggu dalam jajak pendapat pertama sejak ekonomi negara...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya