Headline
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Pelaku usaha menagih penyederhanaan regulasi dan kepastian kebijakan dari pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Senin (20/9), mengumumkan akan mendaratkan robot penjelajah es atau Volatiles Investigating Polar Exploration Rover (VIPER) di wilayah Kutub Selatan Bulan, yang disebut Kawah Nobile pada 2023.
Badan itu berharap robot VIPER akan mengonfirmasi keberadaan es air tepat di bawah permukaan, yang suatu hari nanti bisa diubah menjadi bahan bakar roket untuk misi ke Mars dan lebih jauh ke kosmos.
"Kawah Nobile adalah kawah tumbukan di dekat kutub selatan yang lahir melalui tabrakan dengan benda langit lain yang lebih kecil," kata direktur divisi ilmu planet NASA Lori Glaze, dikutip dari AFP, Selasa (21/9).
Baca juga: Korban Meninggal Akibat Covid-19 di AS Lampaui Kematian Pandemi Tahun 1918
Wilayah kutub selatan Bulan merupakan salah satu daerah terdingin di tata surya dan sejauh ini baru diselidiki dari jauh menggunakan sensor seperti yang ada di Lunar Reconnaissance Orbiter dan Lunar Crater Observation and Sensing Satellite.
"Robot VIPER akan mendekat dan menyatu dengan tanah Bulan, bahkan mengebor beberapa kaki ke bawah," kata Glazer.
Dimensi robot tersebut mirip dengan kereta golf, yakni berukuran 1,5 meter kali 1,5 meter kali 2,5 meter dengan berat 950 pon atau 430 kilogram dan terlihat agak mirip dengan droid yang terlihat di film Star
Wars.
Tidak seperti robot penjelajah yang digunakan di Mars, VIPER dapat dikemudikan hampir secara real time karena jarak dari Bumi jauh lebih pendek, yakni hanya sekitar 300.000 kilometer atau 1,3 detik cahaya. Robot ini juga lebih cepat, diperkirakan mencapai kecepatan 0,8 kilometer per jam.
VIPER bertenaga surya dilengkapi dengan baterai 50 jam, dibuat untuk menahan suhu ekstrem, dan dapat berjalan seperti hewan kepiting yang menyamping sehingga panelnya terus mengarah ke matahari untuk mempertahankan pengisian daya.
Tujuan misi ini, tim VIPER ingin mengetahui bagaimana air beku mencapai bulan, bagaimana ia tetap terawetkan selama miliaran tahun, serta bagaimana ia keluar dan ke mana air itu mengalir sekarang.
Misi tersebut merupakan bagian dari Artemis, yaitu rencana AS untuk mengembalikan manusia ke Bulan.
Misi berawak pertama secara teknis ditetapkan untuk 2024, tetapi kemungkinan akan dilakukan lewat dari rencana karena dipengaruhi berbagai faktor. (Ant/OL-1)
Teleskop SPHEREx milik NASA mendeteksi molekul organik seperti air dan karbon dioksida pada komet antarbintang 3I/ATLAS, membuka peluang riset asal-usul kehidupan.
NASA merilis citra terbaru Hubble yang mengungkap Nebula Telur, fase langka sebelum nebula planet terbentuk. Fenomena kosmik ini terjadi 1.000 tahun cahaya dari Bumi.
NASA memulai uji coba teknologi sayap CATNLF menggunakan jet F-15B. Inovasi ini dirancang untuk mengurangi hambatan udara dan menekan biaya bahan bakar pesawat komersial.
NASA ungkap tantangan teknis di balik terbatasnya jadwal peluncuran Artemis 2. Simak mengapa misi berawak pertama ke Bulan dalam 50 tahun ini sangat bergantung pada mekanika orbital dan cuaca.
Melalui Teleskop Luar Angkasa James Webb (JWST), para ilmuwan menemukan bahwa planet raksasa gas ternyata memiliki kapasitas pertumbuhan yang jauh melampaui teori-teori sebelumnya.
Analisis terbaru data Voyager 2 mengungkap mengapa sabuk radiasi Uranus sangat kuat. Ternyata, ada peristiwa cuaca antariksa langka saat misi berlangsung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved