Selasa 13 April 2021, 23:10 WIB

KBRI Oslo Buka Kelas Bahasa Indonesia, Peminat Capai 100 Orang

Mediaindonesia.com | Internasional
KBRI Oslo Buka Kelas Bahasa Indonesia, Peminat Capai 100 Orang

Dok.KBRI Oslo
Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia merangkap Republik Islandia Todung Mulya Lubis

 

KEDUTAAN  Besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo, Norwegia, menggelar kelas Bahasa  Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara daring melalui aplikasi Zoom untuk tahun 2021. 

Dalam  pembukaan Semester I tahun 2021 ini, jumlah peserta yang mendaftar mampu menembus angka 100  peserta.
“Data terakhir usai penutupan pendaftaran mencatat ada sebanyak 117 peserta yang mendaftar  online. Kami senang melihat besarnya antusiasme orang-orang disini terhadap Bahasa Indonesia,” ujar  Duta Besar RI untuk Kerajaan Norwegia merangkap Republik Islandia Todung Mulya Lubis pada  pembukaan online kelas perdana kelas BIPA, Selasa (13/4).

Total orang dewasa tercatat sebanyak 67 peserta dan sisanya anak-anak. Negara asal mereka pun  beragam, mulai dari Norwegia yang merupakan mayoritas (48 peserta), Belanda, Inggris, Polandia,  Denmark, Republik Ceko hingga Iran.
Untuk semester I ini, kelas online akan berlangsung pada bulan April-September 2021.

Dikarenakan cukup tingginya jumlah peserta kelas Bahasa Indonesia, KBRI Oslo membuka 3 (lima)  kelas untuk masyarakat umum, terdiri dari dua kelas untuk level BIPA 1 dan satu kelas untuk level BIPA  2. 

Tidak hanya itu, terbuka pula kelas khusus anak-anak yang terdiri atas satu kelas untuk tingkat BIPA  1 dan dua kelas untuk tingkat kemahiran BIPA 2.

Untuk kalangan umum, mayoritas peserta kursus terdiri atas tenaga profesional yang berlatar  pengusaha dan pebisnis, pegawai kantor pemerintah setempat, engineering, pariwisata dan kuliner. Selain tenaga profesional, terdapat juga beberapa mahasiswa dari University of Stavanger, University  of Bergen dan postdoctoral University of Oslo. 

Motifnya pun bermacam-macam. Runa Weideman yang merupakan WN Norwegia di Oslo, misalnya,  mengaku dirinya pernah menghabiskan banyak waktu di Bali dan Lombok.  Ia mengaku ingin belajar  Bahasa Indonesia supaya bisa tinggal lebih lama di Indonesia dan mendirikan yayasan untuk  membantu pendidikan dan mengurangi polusi plastik.

Adapula Florence Durney, WN Amerika Serikat di Drammen, yang dahulu sempat belajar Bahasa  Indonesia di Universitas Negeri Malang dan Universitas Kristen Satya Wacana di Salatiga. Ia tidak ingin  kemampuan Bahasa Indonesia-nya hilang tak berbekas. “Saya ingin sekali belajar Bahasa Indonesia untuk keperluan studi dan penelitian saya. Lebih enak juga  jika saya dapat bercakap-cakap dengan teman-teman di Indonesia langsung dengan bahasa lokal,”  ungkapnya terbata-bata dalam campuran Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.

Selain mengajarkan Bahasa Indonesia, program BIPA tentu saja diharapkan dapat memperkenalkan  budaya Indonesia secara luas termasuk kuliner, pariwisata, dan kota-kota di Indonesia.

“Dengan adanya program ini tentu kami berharap masyarakat Norwegia dan Islandia dapat mengenal dan mencintai Indonesia secara lebih dekat dan meningkatkan minat untuk berkunjung Indonesia di masa mendatang setelah pandemi Covid-19 ini berakhir,” tutup Dubes Lubis. (RO/E-1)

Baca Juga

euractiv.com

Polandia Temukan Tiga Kasus Pertama Varian Covid-19 Asal Brasil

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 22:02 WIB
Otoritas memperketat aturan karantina pada Mei bagi mereka yang tiba dari Brasil, India, dan Afrika Selatan setelah kasus varian COVID-19...
aljazeera.com

Saksi Gambarkan Ngerinya Kecelakaan Kereta Api Metro di Meksiko

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 06 Mei 2021, 21:38 WIB
Kereta api metro itu jatuh ke jalanan yang berada di bawah jalur kereta metro, dan menewaskan 25...
hilip FONG / AFP

Tiongkok Kecam Pernyataan G7 yang Dukung Taiwan

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 06 Mei 2021, 19:25 WIB
G7 menganggap Tiongkok bersalah atas pelanggaran hak asasi manusia dan menggunakan pengaruh ekonominya untuk menggertak orang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Citarum Mulai Harum

  Sudah tiga tahun Sungai Citarum dikeroyok. Sampah mulai berkurang, air terlihat lebih bersih.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya