Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

PBB: Hoaks Ancam Penanganan Covid-19

Ant
16/4/2020 00:22
PBB: Hoaks Ancam Penanganan Covid-19
Ilustrasi(Antara)

SEKJEN PBB António Guterres mengingatkan masyarakat agar mewaspadai kabar bohong dan informasi salah yang diedarkan melalui media sosial demi memantik ketakutan dan kepanikan di tengah pandemi korona.

"Di saat dunia berjuang menghadapi pandemi covid-19 kita juga menghadapi pandemi lain, bahaya pandemi informasi salah," kata Guterres pada sesi pengarahan di Markas PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (14/4). 

Guterres menyampaikan keprihatinannya terhadap tips kesehatan yang keliru, teori-teori konspirasi mengenai penyebaran virus, ungkapan kebencian, dan kabar bohong soal korona yang beredar di media sosial. 

Menurut dia, penyebaran informasi salah dan kabar bohong dapat membuat sekelompok orang menjadi korban kebencian dan prasangka.

"Dunia harus bersatu melawan penyakit ini. Percaya pada vaksin. Pertama, percaya pada ilmu pengetahuan. Saya mengapresiasi para wartawan dan lembaga pemeriksa fakta yang meluruskan unggahan-unggahan menyesatkan di media sosial," ucap Guterres seraya meminta operator media sosial untuk meningkatkan usahanya menghapus informasi sesat.

Terkait konteks itu, Guterres mengumumkan PBB meluncurkan inisiatif baru yang bertujuan meluruskan kabar bohong serta informasi salah mengenai covid-19

"Hari ini  saya mengumumkan peluncuran inisiatif tanggap komunikasi PBB yang bertugas mengunggah data dan temuan ilmu pengetahuan demi melawan derasnya arus informasi salah dan sesat yang menempatkan hidup kita dalam bahaya," ujarnya.

Sebelum ada inisiatif baru PBB itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menyiarkan daftar jawaban yang menyangkal kabar bohong soal korona dalam laman resminya.

WHO melaporkan per Rabu jumlah pasien positif korona mencapai 1.914.916 jiwa dan 123.010 di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Sementara sekitar 490.000 orang lainnya berhasil pulih.

Amerika Serikat sejauh ini masih jadi negara dengan jumlah kasus positif terbanyak dengan 614.246 jiwa, disusul oleh Spanyol dengan 177.633 kasus, dan Italia dengan 162.488 kasus. (OL-8)

 

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Polycarpus
Berita Lainnya