Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PANDEMI virus korona baru (covid-19) mungkin menelan biaya 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) wilayah Asia-Pasifik atau, setara, US$172 miliar karena melemahnya permintaan global untuk ekspor mereka saja.
Hal itu diungkapkan Komisi Ekonomi dan Sosial PBB untuk Asia dan Pasifik (ESCAP) dalam sebuah laporan yang diterbitkan Rabu (8/4).
Menurut laporan Economic and Social Survey of Asia and the Pacific, bersama dengan Sputnik, permintaan barang dari Asia-Pasifik akan jatuh di mitra dagang utama kawasan itu, seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa, keduanya sangat terpukul oleh wabah covid-19.
"Melemahnya permintaan dari pasar-pasar ini dapat merusak perdagangan kawasan secara signifikan ... Perkiraan awal oleh ESCAP menunjukkan bahwa PDB daerah tersebut dapat mengalami penurunan 0,6-0,8% (senilai US$ 132 miliar hingga 172 miliar) sebagai dampak langsung dari pandemi covid-19 dari hubungan dagang saja," kata laporan itu.
Vietnam, Mongolia, Kamboja, dan Singapura adalah yang paling rentan terhadap penurunan permintaan karena mereka sangat bergantung pada perdagangan dengan negara-negara yang dilanda pandemi, menurut komisi PBB tersebut.
Wakil Sekretaris Jenderal PBB dan Ketua ESCAP, Armida Salsiah Alisjahbana, mengatakan kepada Sputnik pekan lalu pertumbuhan ekonomi negara-negara Asia-Pasifik dapat turun ke 3,7% pada 2020, penurunan 0,6% tahun ke tahun, karena dampak covid- 19.
Dalam sebuah artikel yang diterbitkan pada Senin, pejabat PBB ini mendesak kawasan untuk meningkatkan pengeluaran darurat kesehatan kumulatif mereka sebesar US$880 juta per tahun hingga 2030.
Alisjahbana juga merekomendasikan agar negara-negara regional membuat dana kesiapsiagaan darurat kesehatan Asia-Pasifik. (Bernama/OL-2)
Pemerintah menyatakan perekonomian Indonesia sepanjang 2025 tetap menunjukkan ketahanan dan kinerja yang solid meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan non migas (IPNM) 2026 di angka 5,51%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kontribusi PDB sektor ini pada 2024 sebesar Rp1.611,2 triliun atau 7,28% dari PDB nasional melebihi pertumbuhan PDB nasional 5,03%.
Komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB kuartal III 2025 adalah konsumsi rumah tangga sebesar 53,14%.
Perlambatan ini mencerminkan normalisasi musiman setelah periode hari raya keagamaan pada kuartal sebelumnya, yang biasanya mendorong konsumsi rumah tangga lebih tinggi.
OJK menyebut berdasarkan dari International Data Center Authority (IDCA) ekonomi digital telah berkontribusi lebih dari 15% terhadap PDB global di 2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved