Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
PERDANA Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern, menginstruksikan penyelidikan yudisial independen terhadap peranan polisi dan dinas intelijen dalam mencegah serangan masjid kembar di Christchurch pada Jumat (15/3).
Ardern mengatakan komisi kerajaan merupakan penyelidikan paling kuat di bawah hukum Selandia Baru, diperlukan untuk memahami bagaimana seorang pria bersenjata dapat membunuh 50 orang dalam serangan yang mengejutkan dunia. "Kita harus memastikan bahwa tidak ada batu yang terlewat untuk memahami bagaimana aksi terorisme itu dapat terjadi dan bagaimana kita bisa menghentikannya," ujar Ardern kepada wartawan.
Agen intelijen Selandia Baru menghadapi kritik tajam pascaserangan teror lantaran berkaitan dengan ancaman gerakan ekstremisme Islam. Di lain sisi, seluruh korban ialah umat muslim. Pun, pembantaian dilakukan seorang supremasi kulit putih yang meyakini kelompok militan Islam telah menyerang negara-negara Barat.
"Satu pertanyaan yang perlu kami jawab apakah kami bisa (mencegah serangan) atau seharusnya tahu lebih banyak. Selandia Baru bukan negara dengan penjagaan ketat, tetapi beberapa pertanyaan perlu dijawab," tukas Ardern.
Ardern menyampingkan hukuman mati bagi terdakwa Brenton Tarrant, 28, yang melakukan serangan bersenjata. Selandia Baru sudah lama menghapus hukuman mati. Tarrant ditangkap beberapa menit setelah serangan masjid kembar di Christchurch dan langsung didakwa kasus pembunuhan.
Lebih lanjut, Ardern mengungkapkan rincian komisi kerajaan tengah difinalisasi. Dia menekankan penyelidikan komisi akan komprehensif dan membuat laporan tepat waktu. Komisi kerajaan menyoroti kegiatan dinas intelijen, kepolisian, bea cukai, imigrasi, dan lembaga lainnya yang berkaitan dengan serangan.
Seperti diketahui, pelaku menyiarkan serangan melalui Facebook Live. Pemerintah Selandia Baru melarang rekaman video itu karena mengandung konten yang tidak pantas. Ardern menekankan, rekaman itu tidak layak disiarkan. "Rekaman video itu tidak boleh dibagikan, kontennya sangat berbahaya," tukas Ardern ketika disinggung sikap Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan yang menunjukkan cuplikan rekaman dalam kampanye pemilihan lokal bulan ini.
Tindakan Erdogan memicu kemarahan pemerintah Selandia Baru melalui retorika kampanye terkait dengan warga Australia antimuslim dan Selandia Baru yang dikirim kembali ke 'peti mati', seperti nasib leluhur mereka dalam Perang Dunia I. (AFP/Tes/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved