Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
STATUS HIV positif 14.200 orang--bersama informasi rahasia lainnya, seperti nomor identifikasi dan detail kontak mereka--telah dibocorkan secara daring oleh orang yang tidak berwenang. Hal itu diungkapkan Kementerian Kesehatan Singapura, Senin (28/1).
Data tersebut terdiri dari 5.400 warga Singapura yang didiagnosis dengan HIV sejak 1985 hingga Januari 2013 dan 8.800 warga asing, termasuk pemohon dan pemegang izin kerja dan kunjungan, yang didiagnosis mengidap HIV dari 1985 hingga Desember 2011.
"Informasi yang bocor termasuk nama mereka, nomor identifikasi, nomor telepon, alamat, hasil tes HIV dan informasi medis. Rincian 2.400 kontak mereka yang diidentifikasi melalui penelusuran kontak hingga Mei 2007 juga bocor," kata Kemenkes Singapura dalam siaran pers.
Pada briefing media yang diadakan, Senin (28/1), untuk menjelaskan masalah itu, Menteri Kesehatan Chan Heng Kee mengatakan dari 5.400 warga Singapura yang rinciannya bocor, 1.900 telah meninggal.
Baca juga: IS Bertanggung Jawab atas Bom di Filipina
"Dari mereka yang hidup, 90% adalah laki-laki," katanya.
Informasi itu dibocorkan oleh dan masih dalam kepemilikan Mikhy K Farrera Brochez, seorang warga Amerika Serikat (AS) yang HIV positif dan tinggal di Singapura dari 2008.
"Dia dihukum karena berbagai penipuan dan pelanggaran narkoba, serta berbohong kepada Kementerian Tenaga Kerja tentang Status HIV," kata kementerian kesehatan.
Brochez dipindahkan ke penjara pada Juni 2016, dijatuhi hukuman penjara 28 bulan, dan dideportasi dari Singapura pada April 2018.
Registri HIV berisi informasi tentang individu yang didiagnosa dengan HIV, penyakit yang dapat diberitahukan, berdasarkan Undang-Undang Penyakit Menular. Kementerian mengatakan menggunakan registri untuk memantau situasi infeksi HIV, melakukan pelacakan kontak, dan menilai pencegahan penyakit dan langkah-langkah manajemen.
"Meskipun akses ke informasi rahasia telah dinonaktifkan, data itu masih dimiliki orang yang tidak berwenang, dan masih bisa diungkapkan kepada publik di masa depan," kata Depkes. “Kami bekerja dengan pihak-pihak yang relevan untuk memindai Internet untuk mencari tanda-tanda pengungkapan informasi lebih lanjut."
“Kami mohon maaf atas kekisruhan dan kesusahan yang disebabkan oleh insiden ini. Prioritas kami adalah kesejahteraan individu yang terkena dampak, ” tambah kementerian. "Kami mengimbau anggota masyarakat untuk segera memberi tahu Kemenkes jika mereka menemukan informasi terkait insiden ini, dan tidak membagikannya lebih lanjut."
Kemenkes telah secara progresif menghubungi orang-orang yang mungkin terkena dampak kebocoran dan mengatakan bahwa hingga Senin (28/1) pukul 13.00 waktu setempat, 900 orang telah dihubungi. (channelnewsasia/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved