Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Irak Siap Gelar Pemilu Perdana Sejak Akhir Perang IS

Denny Parsaulian Sinaga
10/5/2018 18:15
Irak Siap Gelar Pemilu Perdana Sejak Akhir Perang IS
(AFP)

IRAK bersiap untuk menggelar pemilihan parlemen pertama pada Sabtu (12/5). Pemilihan ini dilangsungkan sekitar lima bulan setelah mengumumkan kemenangan atas kelompok Negara Islam (IS).

Berakhirnya perang dengan IS menyisakan dengan dominasi Syiah yang terpecah, suku Kurdi yang kocar-kacir, dan Sunni absen.

Jeda kekerasan jelang pemungutan suara nasional keempat sejak Saddam Hussein digulingkan pada 2003 telah memunculkan beberapa harapan bagi warga Irak. Akan tetapi, ketegangan yang melonjak antara Iran dan Amerika Serikat dapat mengguncang negara itu.

Perdana Menteri Haider al-Abadi-yang telah menyeimbangkan hubungan Washington dan Teheran-diberi julukan baru saat ia mendapat pujian atas perlawanan brutal terhadap para jihadis dan melawan Kurdi yang ingin merdeka.

Namun, persaingan yang ketat dari dalam komunitas Syiah-kelompok mayoritas yang mendominasi politik Irak-memecah suara dan membutuhkan waktu yang panjang untuk membentuk pemerintahan.

Siapa pun yang muncul sebagai perdana menteri Irak akan menghadapi tugas maha besar, yaitu membangun kembali sebuah negara yang terkoyak oleh perang melawan IS.

Meskipun berada dalam masa tenang yang sangat langka, lebih dari dua setengah juta orang tetap mengungsi dan para jihadis IS masih menjadi ancaman utama.

Lebih dari 15 tahun Irak berkubang dalam rangkaian peristiwa berdarah sejak invasi AS membalikkan politik Irak. Juga muncul kekecewaan luas jika wajah lama yang sama dari kalangan elite bakal terperosok dalam korupsi dan sektarianisme.

Dua penantang
PM Irak Abadi, yang memerintah saat IS mengamuk di seluruh negeri pada 2014, bersama Victory Alliance menghadapi dua penantang dari Syiah. Abadi telah menempatkan dirinya sebagai jembatan antara Syiah dan Sunni Irak.

Mantan Perdana Menteri Nuri al-Maliki, musuh sengit Abadi, meskipun berasal dari partai yang sama, Dawa, secara luas dicerca karena mengobok-obok sektarianisme. Ia juga dituding menyebabkan Irak kehilangan wilayah akibat direbut IS. Meski begitu, al-Maliki mendapat dukungan dari garis keras.

Mantan Menteri Transportasi Hadi al-Ameri, yang memiliki hubungan erat dengan Pengawal Revolusi Iran, dielu-elukan oleh banyak orang sebagai pahlawan perang. Ia merupakan pemimpin unit paramiliter yang berjuang melawan IS bersama tentara Irak.

Al-Ameri ingin pasukan AS yang membantu pertempuran melawan IS untuk tetap meninggalkan Irak demi kebaikan. Hal tersebut bertentangan dengan kebijakan luar negeri Abadi yang berhati-hati dan membuat rezimnya terhubung dengan musuh Iran, yaitu Arab Saudi.

Secara keseluruhan hanya di bawah 7.000 kandidat yang pantas. Sistem Irak yang kompleks juga mengindikasikan bahwa tidak satu blok pun bakal memenangi suara mayoritas di parlemen yang berisi 329 kursi.

"Tentu saja ada kontes antara tiga calon untuk jabatan perdana menteri, tetapi itu tidak akan berdampak pada sistem yang tampaknya membuat Syiah mengontrol dan menjalankan pemerintahan di Irak," kata analis yang berbasis di Yordania, Adel Mahmud.

Di antara kelompok-kelompok lain yang bersaing untuk oposisi adalah aliansi yang tidak mungkin antara ulama Syiah Moqtada Sadr dan kaum sekular komunis yang ingin melawan korupsi. (A-2)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya