Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Para Mantan Atlet Irak Terjun ke Politik

Irene Harty
25/4/2018 13:05
Para Mantan Atlet Irak Terjun ke Politik
(AFP/SAFIN HAMED)

DI tengah panas terik Meksiko 1986, Ahmed Radhi dan Basil Gorgis mengenakan seragam yang sama untuk mewakili tim sepak bola Irak masuk final Piala Dunia. Namun, sepertiga abad kemudian, mereka hanya dua dari beberapa mantan bintang sepak bola yang ambil bagian dalam bidang yang bertolak belakang, kandidat parlemen dalam pemilihan bulan depan.

Petualangan Piala Dunia memang berakhir dengan kegagalan yang menyedihkan yakni Irak tersingkir setelah kehilangan tiga pertandingan grupnya. Akan tetapi mantan pemain sepak bola menjadi daya tarik besar bagi beberapa pemilih Irak.

"Rakyat Irak membutuhkan seseorang yang menunjukkan bahwa mereka berfokus pada kepentingan mereka, dan siapa yang akan bekerja untuk menjamin kehidupan yang layak," kata kandidat Aliansi Nasional (NA), Radhi yang pernah ikut pemilihan pada 2014 tapi kalah. Laki-laki berusia 54 tahun itu mengatakan kelompok politiknya menyatukan semua komunitas dan pengakuan.

Aliansi Nasional dipimpin oleh Wakil Presiden Irak Ayad Allawi, seorang Syiah sekuler, dan pembicara parlemen Salim al-Juburi, seorang Sunni. “Daftar kandidat NA adalah liberal dan melampaui konfesionalisme. Inilah yang diinginkan orang-orang sekarang,” imbuhnya.

Sementara itu Gorgis menjadi kandidat ‘Abna al-Rafideyn’, kelompok yang menyatukan orang-orang Kristen Chaldean, Assyria, dan Suriah. Dengan motivasi yang lebih khusus saat berada di kota Arbil Kurdi, dia mengatakan akan berusaha melindungi kepentingan orang Kristen.

Selain kedua kandidat itu, muncul pula mantan penjaga gawang Irak lainnya, Chaker Mohammad Sabbar yang berdiri untuk hak-hak komunitasnya.

Berusia 50 tahun dan termasuk dalam kaum Sunni, Sabbar mengaku mendapat peringatan dari keluarga yang dicintainya tapi hal itu tidak menghentikannya mencalonkan diri sebagai kandidat di Ramadi, ibukota provinsi Anbar di Irak tengah yang sempat diduduki Negara Islam.

Sabbar tercatat di nomor 10 dalam daftar kelompok ‘Tamaddun’ yang mengadvokasi negara sekuler. "Orang-orang telah sangat menderita. Sekarang, sudah waktunya kepentingan kita dipertahankan, seperti kepentingan orang Irak lainnya," tambahnya.

Muncul pula nama, Hassan Farhan, 65 dalam daftar Partai Sipil sekuler yang adalah lulusan ilmu politik dan militer. "Orang-orang sekarang lebih percaya diri pada olahragawan daripada politisi, yang telah melemahkan negara," kata Farhan.

Di sisi lain, ada juga mantan perenang internasional Sarmad Abdelilah, sekarang anggota Komite Olimpiade Nasional dan ‘Aliansi Kemenangan’ Perdana Menteri Haider al-Abadi.

"Kita harus berpikir tentang membangun masa depan yang lebih baik untuk olahraga. Tidak ada atlet di parlemen jadi tidak ada hukum atau lembaga untuk struktur olahraga Irak,” sahutnya menyuarakan pembaruan dalam olahraga Irak.

Pesaing lainnya termasuk Taleb Faysal, Ketua Federasi Angkat Besi Irak, yang ada dalam daftar mantan ‘Aliansi Hukum’ Perdana Menteri Nuri al-Maliki. "Mereka sudah memiliki penggemar. Sekarang giliran bintang-bintang ini untuk menempatkan diri pada pelayanan rakyat,” kata Hussein Hassan, 45, warga Baghdad.

Ketidakpercayaan terhadap politisi menjelang pemungutan suara 12 Mei tercatat tinggi semenjak 15 tahun lalu penggulingan mantan diktator Saddam Hussein. "Kami lebih percaya pada mereka daripada para politisi, yang tidak mengubah apa pun," kata Hassan.

Kendati demikian ada beberapa warga yang tidak membeli daya tarik veteran olahraga. (AFP/OL-5)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Anata
Berita Lainnya