Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
UNI Eropa (UE) dan PBB, pada Selasa (24/4), memulai konferensi dua hari untuk mengumpulkan bantuan baru bagi Suriah yang dilanda perang. Konferensi ini juga untuk menghidupkan kembali proses perdamaian Jenewa yang goyah saat konflik kini telah memasuki tahun ke delapan.
Pertemuan itu dilakukan setelah serangan oleh Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris pada instalasi militer Suriah beberapa waktu lalu. Serangan ini dilakukan sebagai tanggapan atas insiden serangan gas kimia di Douma yang telah menyalahkan Damaskus. Negara-negara donor, organisasi pemberi bantuan dan badan-badan PBB akan berkumpul di Brussels, Belgia, untuk konferensi tahunan ketujuh tentang masa depan Suriah saat inspektur internasional menyelidiki dugaan serangan gas di kota Douma.
Pejabat Uni Eropa berharap melampaui perolehan US$ 6 miliar (5,6 miliar euro) yang dijanjikan pada pertemuan tahun lalu. Karena serangan Presiden Bashar al-Assad, yang didukung oleh sekutu utama Rusia, membuat krisis makin parah.
"Kami telah melihat situasinya memburuk secara dramatis sejak awal tahun. Kami telah menangani sekitar 700.000 pengungsi di Suriah selama empat bulan," kata seorang pejabat senior Uni Eropa.
Menueut UE, sekitar 6,1 orang kini mengungsi, lebih dari lima juta warga Suriah telah melarikan diri dari negara mereka dan 13 juta orang membutuhkan bantuan.
Pejabat tinggi PBB dan Uni Eropa akan mengadakan pembicaraan dengan kelompok pemberi bantuan yang bekerja di Suriah dan negara-negara tetangga pada Selasa (24/4). Pembicaraan ini untuk meminta pandangan mereka sebelum Rabu (25/4).
Kepala Eksekutif Save the Children International, Helle Thorning-Schmidt, mendesak para donor untuk fokus pada pendidikan. Dia mengatakan sepertiga anak muda Suriah tidak bersekolah dan sepertiga sekolah Suriah tidak dapat digunakan lagi karena perang.
"Kami telah membiarkan anak-anak Suriah jatuh. Ini adalah tahun ketujuh dan mereka masih dikecewakan," kata Thorning-Schmidt kepada AFP. "2018 telah menjadi tahun yang sangat berdarah bagi anak-anak Suriah dan salah satu hal yang sangat mereka lewatkan adalah pendidikan."
Badan anak-anak PBB, UNICEF, mengatakan sekitar 2,8 juta anak-anak Suriah telah kehilangan pendidikan. Unicef memperingatkan bahwa di beberapa bagian negara, pergi ke sekolah menjadi masalah hidup dan mati. (OL-5)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved