Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Trump Kecewa dan Ancam Tarik Bantuanya Kepada Palestina

MICOM
26/1/2018 17:07
Trump Kecewa dan Ancam Tarik Bantuanya Kepada Palestina
(AFP PHOTO / Fabrice COFFRINI)

TEKANAN Amerika Serikat terhadap posisi Palestina semakin kencang. Setelah mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel secara sepihak, Presiden AS Donald Trump di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Kamis (26/1) mengancam menahan bantuan AS ke Palestina jika Palestina tidak duduk berunding membahas perdamaian dengan Israel.

Permintaan atau lebih tepatnya disebut desakan AS ini tentu akan menyulitkan Palestina dengan posisi Israel yang lebih dominan setelah pengakuan sepihak AS tersebut.

Trump dalam kesempatan itu mengaku kecewa kepada Palestina setelah Wapres AS Mike Pence saat mengadakan lawatannya ke Timur Tengah disambut dingin oleh otoritas dan warga Palestina. Bertepatan dengan kunjungan Pence tersebut, PM Palestina Mahmoud Abbas mengadakan kunjungan ke luar negeri sebelum Pence tiba.

Trump mengatakan Palestina telah menghina AS. Pernyataan Trump tersebut disampaikan setelah dia bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss itu.

"Ketika mereka tidak menghormati kami seminggu lalu dengan tidak membiarkan wakil kami (Pence) untuk melihat mereka, dan kami memberi mereka ratusan juta dolar bantuan dan dukungan, jumlah yang luar biasa, dan uang itu ada di atas meja dan uang itu kini tidak ada pada mereka, kecuali jika mereka duduk dan bernegosiasi perdamaian, "kata Trump.

Washington pun sudah mengatakan akan menahan sekitar setengah dari awal
bantuan itu yang direncanakan untuk diberikan melalui badan khusus PBB yang mengurusi warga Palestina.

Untuk diketahui, warga Palestina menyambut dingin dan menghindari kunjungan Pence ke wilayah ini beberapa hari lalu. Alasannya, pengakuan Trump bahwa Jerusalem sebagai ibukota Israel dan berjanji untuk mulai memindahkan Keduataan AS ke sana sangat merugikan Palestina.

Sikap Trump tersebut juga dikecam secara universal. Kebijakan Trump tersebut juga dinilai melanggar kebijakan AS dalam beberapa dasawarsa ini. Sebagian besar pemimpin dunia berpandangan bahwa status kota Jerusalem harus diputuskan dalam negosiasi antara Israel dan Palestina.

Menanggapi pernyataan Trump tersebut, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan AS telah menempatkan dirinya sendiri "di luar meja" sebagai mediator perdamaian, sejak AS mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel.

"Hak-hak Palestina tidak bisa ditawar lagi dan isu Jerusalem bukan untuk dijual. Amerika Serikat tidak dapat mengambil peran kecuali jika mereka membatalkan keputusannya yang mengakui Jerusalem sebagai ibukota Israel," ujar juru bicara Nabil Abu Rdainah kepada Reuters melalui telepon dari Yordania.

Selain itu, Abbas telah menyebut deklarasi Trump di Jerusalem sebagai "tamparan di wajah" dan telah menolak Washington sebagai perantara perdamaian yang jujur dalam pembicaraan masa depan Israel.

Sebelumnya di Forum Ekonomi Dunia, Raja Jordania Abdullah mengatakan
Jerusalem harus menjadi bagian dari solusi yang komprehensif.
Dia mengatakan bahwa keputusan Trump telah menciptakan reaksi balasan, membuat frustrasi Warga Palestina yang merasa tidak ada penengah perdamaian yang jujur.

Tapi dia menambahkan: "Saya ingin memberikan penilaian karena kami masih menunggu agar Amerika bisa keluar dengan rencananya," ujar Raja Abdullah.(AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya