Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Trump Mengelak Dari Tuduhan Dirinya Seorang Rasis

MICOM
15/1/2018 19:09
Trump Mengelak Dari Tuduhan Dirinya Seorang Rasis
(AFP)

DONALD Trump rasis!!. Begitulah tuduhan orang terhadap presiden Amerika Serikat setelah dia menghina secara vulgar terhadap negara-negara Afrika dan Haiti dan diikuti mempersulit kesepakatan bipartisan tentang imigrasi.

Terhadap tuduhan itu, Trump membantah keras dan dengan lantang mengatakan dirinya bukanlah seorang rasis. "Saya bukan seorang rasis, saya adalah orang paling tidak rasis yang pernah Anda wawancarai," kata Trump kepada wartawan di Trump International Golf Club di West Palm Beach, Florida, di mana dia sedang makan malam dengan Pemimpin Mayoritas Partai Republik Kevin McCarthy.

"DACA mungkin sudah mati karena Demokrat tidak menginginkannya," ujar Trump dalam sebuah cicitan di Twitter, terlihat seperti menyerah pada kesepakatan imigrasi yang buntu.

Presiden ke-45 AS itu terlihat berusaha untuk defensif dengan mengambinghitamkan Demokrat dan menggambarkan partai tersebut tidak benar-benar tertarik pada kesepakatan imigrasi.

"Mereka hanya ingin berbicara dan mengeluarkan uang yang sangat dibutuhkan dari militer kita," cuitnya di Twitter.

"Saya, sebagai Presiden, ingin orang-orang datang ke negara kita yang akan membantu kita menjadi kuat dan hebat lagi, orang-orang datang melalui sebuah sistem. Tidak ada lagi Undian! #AMERICAFIRST!" tambahnya.

Di Florida, Trump menyampaikan, "Saya tidak berpikir Demokrat ingin membuat kesepakatan. Orang-orang dari DACA harus tahu Demokrat adalah orang-orang yang tidak akan membuat kesepakatan."

Trump pun bersikeras dan meyakinkan Gedung Putih siap, mau dan bisa membuat kesepakatan dengan DACA.

Namun Senator Jeff Flake, seorang Republikan yang mengkritik Trump, mengatakan bahwa Demokrat serius dalam kesepakatan bipartisan mengenai imigrasi.

Dia mengatakan bahwa kompromi yang disampaikan ke Gedung Putih pada Kamis akan mengakhiri sistem undian visa dan yang disebut migrasi berantai dimana imigran legal dapat membawa anggota keluarga. Pemimpi akan diizinkan untuk tinggal tapi tidak menjadi warga negara AS.

Ratusan ribu imigran dibawa ke negara tersebut secara ilegal sebagai anak-anak yang disebut 'Dreamers.' Mereka menghadapi ancaman deportasi kecuali sebuah kompromi dapat dicapai yang akan memberi mereka hak untuk tinggal.

Sebuah kesepakatan bipartisan untuk menyelesaikan masalah 'Dreamers' tersebut dengan imbalan perubahan yang diminta oleh Partai Republik, runtuh dalam kekecewaan pada Kamis (11/1) atas ucapan Trump, yang secara luas dikecam sebagai rasis.

"Saya pikir orang ini, presiden ini, membawa kita kembali ke tempat lain. Saya pikir dia seorang rasis,” ujar John Lewis, seorang anggota kongres Georgia yang berada di garis depan gerakan hak-hak sipil tahun 1960-an, pada Minggu (14/1).

Senator David Purdue, seorang Republikan dari Georgia, menyebut tuduhan bahwa Trump adalah orang yang rasis adalah hal yang keliru. Namun, orang-orang Republikan lainnya, ada yang berbicara menentang presiden.

"Saya tidak bisa membela yang tidak dapat dipertahankan," kata Mia Love, seorang perempuan anggota kongres keturunan Haiti-Amerika dari Utah yang dulu berkampanye atas nama Trump di komunitas Haiti di negara tersebut.

"Saya masih berpikir bahwa dia harus meminta maaf," katanya di CNN's "State of the Union." "Saya pikir ada orang yang mencari permintaan maaf dan saya pikir itu akan menunjukkan kepemimpinan sejati."

Tapi Trump telah terjebak dengan penyangkalan yang samar bahwa dia menggunakan bahasa seperti itu, dan sejauh ini tidak melakukan langkah untuk meminta maaf, menyakiti prospek untuk mendapatkan kesepakatan mengenai DACA dan membuat hidup tidak nyaman bagi orang Republik saat mereka melihat ke depan untuk pemilihan paruh waktu tahun ini. (AFP/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya