Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Yaman Menuju Krisis Kemanusiaan Terburuk Dalam 50 Tahun Terakhir

MICOM
06/1/2018 21:56
Yaman Menuju Krisis Kemanusiaan Terburuk Dalam 50 Tahun Terakhir
(AFP/MOHAMMED HUWAIS)

RAKYAT Yaman yang dilanda perang menghadapi situasi yang mirip dengan kiamat. Hal ini disampaikan oleh kepala lembaga kemanusiaan PBB, Mark Lowcock.

Ia memperingatkan bahwa negara tersebut bisa dilanda bencana kemanusiaan terburuk dalam setengah abad.

Negara termiskin di dunia Arab telah mengalami hampir tiga tahun perang antara pemberontak Houthi dan pasukan didukung Arab Saudi, yang setia kepada Presiden Abd-Rabbu Mansour Hadi yang diasingkan.

Konflik ini memiliki dampak yang menghancurkan. Menyebabkan kelangkaan pangan dan wabah kolera besar serta membuat jutaan orang membutuhkan bantuan kemanusiaan.

"Situasi di Yaman sekarang, bagi penduduk negara, terlihat seperti kiamat," kata Mark Lowcock, bawahan Sekretaris Jenderal PBB untuk koordinasi kemanusiaan dan koordinator bantuan darurat PBB, Jumat.

"Wabah kolera mungkin adalah yang terburuk yang pernah dialami dunia dengan satu juta kasus yang diperkirakan sampai akhir 2017," bubuhnya seperti dinukil Al Jazeera, Sabtu 6 Januari 2018.

Lowcock mengatakan "epidemi baru yang mengerikan" difteri, penyakit bakteri yang harus benar-benar dapat dicegah dengan imunisasi, "menyerang hingga 500 orang dengan puluhan dan puluhan kematian" dalam beberapa pekan terakhir.

"Itu akan menyebar seperti kebakaran," tambahnya. "Jika situasinya tidak berubah, kita akan mengalami bencana kemanusiaan terburuk di dunia selama 50 tahun," sambung Lowcock.

Situasi putus asa

Komentar Lowcock muncul saat Dana Darurat PBB (CERF) mengalokasikan USD50 juta buat mendukung upaya bantuan kemanusiaan di Yaman. Di negeri itu, lebih dari delapan juta orang berada di ambang kelaparan.

Jumlah tersebut merupakan alokasi terbesar yang pernah dikucurkan CERF dan mencerminkan situasi mengerikan di Yaman. Negeri ini menjadi salah satu negara termiskin di dunia Arab sebelum dimulainya perang pada 2015.

Lowcock mengatakan bahwa uang tersebut akan membantu mempersiapkan bantuan yang diperlukan untuk tahun depan.

"Fakta bahwa saya harus melakukan itu jelas bukan tindakan yang berhasil, itu adalah tanda betapa putus asa situasinya," katanya kepada Al Jazeera.

Sebuah pernyataan PBB yang dikeluarkan pada Jumat mengatakan bahwa dana tersebut akan "memungkinkan peningkatan bantuan demi menyelamatkan jiwa yang mendesak" di Yaman. Selain akan diarahkan demi mencegah bencana kelaparan, serta membantu warga sipil yang terkena dampak konflik yang sedang berlangsung.

Sebagian dana juga akan digunakan untuk mendukung layanan publik yang memburuk di negara ini.(Medcom/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya