Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Aksi Tolak Kebijakan Trump di Jerusalem, Tentara Israel Terbukti Gunakan Peluru Tajam

MICOM
29/12/2017 18:00
Aksi Tolak Kebijakan Trump di Jerusalem, Tentara Israel Terbukti Gunakan Peluru Tajam
(AP Photo/ Khalil Hamra)

TENTARA Israel mengunakan segala cara untuk mencegah demontrasi anti Israel setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan Jerusalem sebagai Ibukota negara zionis itu. Salah satu catatan medis Palestina di Jalur Gaza menunjukkan bahwa seorang pria yang lumpuh ditembak bagian kepalanya dan langsung meninggal dalam sebuah demonstrasi kekerasan di sepanjang perbatasan Gaza pada pertengahan Desember ini.

Dalam rekaman yang diperoleh oleh The Associated Press pada Kamis (29/12), menyoroti sebuah kasus bertepatan dengan adanya demostrasi Palestina saat Presiden Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.

Ibrahim Abu Thraya, yang lumpuh akrena kehilangan kakinya dalam insiden terpisah beberapa tahun yang lalu dengan tentara Israel, terbunuh pada 15 Desember dalam bentrokan yang meletus di sepanjang perbatasan Israel.

Warga Palestina mengatakan Abu Thraya ditembak dengan sengaja oleh seorang penembak jitu Israel. Namun hal itu dibantah oleh pihak militer Israel.

Catatan medis, yang mencakup laporan rumah sakit dan sertifikat kematian itu menyebutkan Thraya, 29, terkena peluru di atas mata kirinya dan meninggal karena pendarahan di otak. Temuan yang sama dirinci dalam sebuah laporan oleh layanan ambulans Red Crescent Palestina yang dikutip oleh AP. Namun laporan tersebut tidak menentukan siapa yang menembakkan peluru keras itu.

Seperti diberitakan sebelumnya pada saat bentrokan 15 Desember lalu berubah menjadi kekerasan yang dilakukan tentara Israel. Para demontrans saat melakukan protes melemparkan batu, bom molotov dan membakar ban di pagar perbatasan. Para saksi mata juga mengatakan tidak ada tembakan dari pihak Palestina.

Protes tersebut terjadi di tengah gelombang kekerasan yang meletus di wilayah Palestina sejak deklarasi Trump di Jerusalem. Sedikitnya 12 orang telah meninggal sejauh ini, hampir semuanya di Gaza.

Sebuah video menunjukkan bahwa Thraya yang saat itu menggunakan kursi roda, menaikkan bendera Palestina dan mengacungkan jari kemenangan 'victory.' Thraya pun telah muncul sebagai simbol perlawanan terhadap langkah Trump di Jerusalem, yang oleh rakyat Palestina dilihatnya berpihak kepada Israel.

Sebuah penyelidikan militer Israel setelah penembakan tersebut mengatakan bahwa Abu Thraya telah berpartisipasi dalam sebuah demonstrasi "sangat keras". Penyelidikan, yang oleh militer dilakukan secara tertutup itu mengatakan bahwa Abu Thraya tidak terbunuh karewna tembakan.

Hasil investigasi tertutup tersebut pada akhirnya membebaskan pasukan Israel dari tuduhan berasalah dan mengatakan bahwa tidak menemukan "kegagalan moral atau profesional" dalam tindakan tentara tersebut.

Namun dari laporan AP yang diperoleh dari RS Shifa di Gaza ditolak militer Israel yang mengatakan bahwa laporan tersebut berasal dari media. Pihak militer pun mengabaikannya dan mengatakan "akan dipelajari dan diperiksa pada hari-hari berikutnya."

Alyona Synenko, juru bicara Komite Palang Merah Internasional, mengatakan bahwa organisasi tersebut memiliki "dialog yang berkelanjutan" dengan pihak berwenang di Israel dan Gaza. Dia mengatakan bahwa semua pembicaraan bersifat rahasia dan dia tidak dapat menjelaskannya.

Abu Thraya sendiri merupakan salah seorang tokoh terkenal di Gaza. Keluarganya mengatakan bahwa Abu Thraya kehilangan kakinya karena serangan udara Israel saat mencoba menyelamatkan orang lain saat ada serangan oleh militer Israel di Jalur Gaza.

Catatan AP juga menunjukkan bahwa dia terluka pada 11 April 2008, dalam bentrokan antara pasukan Israel dan militan Palestina di kamp pengungsi Bureij di Gaza tengah. Rekaman televisi AP dari hari itu menunjukkan Abu Thraya mengidentifikasi dirinya saat ia dibawa pergi di belakang sebuah truk pickup. Dia juga terlihat dibawa ke atas tandu.

Baik militan dan warga sipil yang terluka dan terbunuh hari itu, dan tidak jelas apakah Abu Thraya telah berpartisipasi dalam kekerasan tersebut. Sejak kehilangan kakinya, Abu Thraya mencari nafkah dengan mencuci mobil. Dia juga sering menjadi peserta demonstrasi di sepanjang perbatasan dengan Israel.

Ahmed Yaghi, yang juga melakukan demonstrasi pada 15 Desember, mengatakan Abu Thraya dan beberapa lainnya berdiri sekitar 15 meter dari pagar perbatasan, menghadap tentara Israel di balik gundukan pasir.

Yaghi mengatakan bahwa dia melihat seorang tentara dengan posisi menembak dan kemudian dia mendengar satu tembakan.

"Saya berlari mendekat dan melihat Ibrahim (Abu Thraya) berdarah pada bagian dahinya, dia duduk di kursi roda, beberapa pemuda mendorongnya ke kursi dan membawanya ke ambulans," kata Yaghi.

Yaghi mengatakan bahwa dua hari sebelum dia terbunuh, tentara Israel melintasi pagar perbatasan meminta Abu Thraya melalui pengerassuara, memintanya untuk meninggalkan daerah tersebut. Militer memberlakukan zona larangan berada di samping pagar dan memperingatkan orang agar tidak terlalu dekat.

Hamas, yang biasanya memuji pejuangnya yang tewas dalam pertempuran, belum mengidentifikasi Abu Thraya sebagai anggotanya.(OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya