Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Kepolisian Filipina Selidiki Kebakaran di Sebuah Pusat Perbelanjaan

Anastasia Arvirianty
25/12/2017 19:52
Kepolisian Filipina Selidiki Kebakaran di Sebuah Pusat Perbelanjaan
(AFP/MANMAN DEJETO)

PIHAK berwenang Filipina memerintahkan untuk melakukan penyelidikan tindak kriminal terhadap peristiwa kebakaran di pusat perbelanjaan di kota Davao yang menewaskan puluhan orang. Kebanyakan dari korban adalah staf layanan call center dari sebuah firma Amerika.

Sekretaris Pengadllan Vitaliano Aguirre mengumumkan penyelidikan tersebut saat pemerintah menaikkan jumlah korban dari kebakaran di kota Davao bagian selatan tersebut. Sampai saat ini satu korban dinyatakan tewas dan 38 lainnya hilang.

Kobaran api tersebut menambah kesengsaraan suasana Natal di selatan negara yang mayoritas beragama Katolik ini. Sebelumnya, puluhan ribu warga juga mengungsi karena banjir dan tanah longsor akibat badai yang juga menewaskan lebih dari 200 orang lainnya pada Jumat (22/12).

"Dengan menghukum mereka yang bertanggung jawab, kami bisa memberi contoh kepada orang lain, semoga tidak akan ada pengulangan tragedi tersebut," kata Aguirre dalam sebuah pernyataan.

SSI, sebuah perusahaan riset pasar yang berbasis di AS, mengonfirmasi di situsnya pada hari Minggu lalu bahwa 37 dari 500 karyawannya hilang dari unit Davao.

"Tragedi yang mengerikan ini telah membuat kami patah hati. Kami mengucapkan belasungkawa dan doa kepada keluarga dan orang-orang terkasih dari para korban," ujar Chief Executive Gary Laben dalam pernyataan tersebut.

Pihak perusahaan mengatakan telah mengatur konseling untuk para pegawainya, dan akan mendukung pengaturan pemakaman dan menyiapkan dana untuk membantu orang-orang yang berduka.

Pemerintah setempat pada Minggu (24/12) mengatakan tidak ada orang yang terjebak dalam api akan selamat dan petugas pemadam kebakaran hanya berhasil mengambil satu tubuh yang tidak dikenal sejauh ini.

Marsekal kota telah menggambarkan pusat perbelanjaan sebagai ruang tertutup tanpa ventilasi, meskipun pihak berwenang mengatakan bahwa mereka belum menentukan penyebab kebakaran tersebut.

Administrator gedung pada Minggu membantah tuduhan dari korban selamat bahwa ada pintu darurat yang tidak memadai dan beberapa di antaranya dikunci.

"Tidak ada kebenaran atas tuduhan tersebut. Sebenarnya, menurut perihal mereka yang keluar, mereka bisa keluar melalui pintu keluar darurat," kata Thea Padua, petugas hubungan masyarakat pusat perbelanjaan tersebut kepada AFP.

Beberapa kerabat dari mereka yang hilang mengkritik tim penyelamat karena mereka merasa upaya pemulihan yang lamban.

"Mereka tampak sangat santai," kata Jolita Basalan diiringi tangis saat dia menunggu kabar tentang anak perempuannya yang hilang berusia 29 tahun Jonas yang bekerja di call center tersebut.

"Mereka tidak sakit karena tidak memiliki anak di sana. Mereka menyuruh kami datang ke sini tapi tidak ada yang bergerak," katanya.

Kejadian tersebut mengingatkan pada kejadian pada 2015, sebuah kebakaran menghanguskan sebuah pabrik alas kaki di Manila, menewaskan 72 orang. Korban selamat dari kebakaran itu menyalahkan jendela dan kondisi lainnya yang menjebak orang-orang di dalam ruangan pabrik.

Dalam kebakaran paling mematikan di Filipina akhir-akhir ini, 162 orang tewas dalam kebakaran besar yang memusnahkan disktik di Manila pada tahun 1996.

Tenaga kerja Philipina ini dikenal upah rendah namun kemampuan bahasa Inggris yang kuat, sehingga negara Asia merupakan tujuan populer bagi perusahaan internasional untuk mendirikan pusat panggilan pelanggan di kota-kota besar termasuk Davao, 900 kilometer ditambah (lebih dari 500 mil) selatan Manila. (OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya