Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

PBB Pertegas Peringatannya Atas Upaya Pemusnahan Etnis Rohingya Di Myanmar

MICOM
18/12/2017 19:53
PBB Pertegas Peringatannya Atas Upaya Pemusnahan Etnis Rohingya Di Myanmar
(AFP)

PEJABAT tinggi hak asasi manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan tidak akan terkejut jika pengadilan pada suatu hari memutuskan bahwa pemusnahan dilakukan terhadap suku kecil Muslim Rohingya di Myanmar.

Hal itu merujuk pada wawancara televisi, yang ditayangkan Senin (18/12) saat Komisaris Tinggi untuk Hak Asasi Manusia PBB Zeid Ra'ad al-Hussein mengatakan kepada BBC bahwa serangan terhadap Rohingya "dipikirkan dan direncanakan dengan baik" dan ia meminta pemimpin Myanmar Aung San Suu Kyi berbuat lebih banyak untuk menghentikan tindakan militer tersebut.

Zeid menyebut gerakan tersebut "contoh nyata pembersihan suku". Ia juga bertanya secara retoris apakah ada yang bisa mengesampingkan "unsur pemusnahan", namun pernyataan terakhirnya membuat perkara itu jelas, memperkuat sikapnya.

"Unsur itu menyarankan Anda tidak dapat mengesampingkan kemungkinan tindakan genosida telah dilakukan," katanya.

Di sisi lain, Myanmar membantah melakukan kekejaman terhadap etnis Rohingya dan sebelumnya menolak kritik PBB atas "politisasi dan keberpihakannya". Militer Myanmar mengatakan tindakan keras tersebut adalah operasi kontra-pemberontakan yang sah.

Terhadap reaksi defensif oleh pemerintahan Myanmar itu, Zeid mengatakan bahwa tanggapan Myanmar yang "sembrono" terhadap keprihatinan serius masyarakat internasional dan membuatnya takut akan krisis saat ini.

Perserikatan Bangsa-Bangsa mendefinisikan genosida sebagai tindakan yangdimaksudkan untuk menghancurkan kelompok nasional, etnis, ras atau agama secara keseluruhan atau sebagian. Penunjukan seperti itu jarang ditemukan dalam hukum internasional, namun telah digunakan dalam konteks tertentu termasuk Bosnia, Sudan dan sebuah kampanye kelompok IS melawan komunitas Yazidi di Irak dan Suriah.

Hampir 870.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, termasuk sekitar 660.000 orang yang tiba setelah 25 Agustus, ketika gerilyawan Rohingya menyerang pos keamanan dan tentara Myanmar melancarkan serangan balasan.

Penyelidik PBB telah mendengar kesaksian Rohingya tentang "pola pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan dan pembakaran yang konsisten dan metodis". Zeid mengatakan bahwa dia telah menelepon Suu Kyi pada Januari, meminta dia untuk menghentikan operasi militer tersebut.

Pemerintahan sipil pimpinan peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi yang berusia dua tahun telah menghadapi kritik internasional yang besar atas respons dinginnya terhadap krisis tersebut.

Meski tidak memiliki kendali atas para jenderal, ia harus berbagi kekuasaan dengan para jenderal di bawah pemerintahan peralihan Myanmar setelah puluhan tahun berkuasa.(Ant/OL-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Soelistijono
Berita Lainnya