Headline
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.
Kumpulan Berita DPR RI
DUDUK di meja kafe dengan segelas teh mungkin menjadi hal biasa.
Namun, di jantung distrik toko buku di Baghdad, pelanggan Kafe Shabandar dapat pula menikmati 100 tahun sejarah kekacauan di Irak berlalu.
Sejak membuka pintunya satu abad yang lalu, kafe tersebut telah menjadi pusat kehidupan intelektual Baghdad dan menarik penyair serta politisi ke bangku kayu dan dinding berlapis foto.
Puluhan foto hitam putih yang menutupi dinding kafe menawarkan sekilas sejarah Baghdad dan Irak, mencatat beberapa kejayaan pemimpinnya, dan lain-lain hingga masa ketidakjelasan.
Dalam sebuah buku emas, sejumlah duta besar asing telah meninggalkan tanda tangan mereka.
Keragaman wajah laki-laki dan perempuan yang melapisi dinding sekarang bergema oleh keberagaman pengunjung yang masih datang ke Shabandar setiap pagi.
"Saya telah datang ke sini selama 60 tahun terakhir. Pukul sembilan pagi sampai pukul dua atau tiga sore, saat semua orang pergi," kata Abdel Fattah al-Noeimi, 77, dengan mengenakan jas cokelat serta dasi yang serasi.
Dari pemerintahan Inggris sampai zaman modern Irak, Shabandar telah hidup menyaksikan kelahiran sebuah bangsa, runtuhnya monarki, dominasi rezim Saddam Hussein, hingga drama invasi pimpinan Amerika Serikat dan pertumpahan darah setelahnya.
Rotasi dan tragedi telah meninggalkan bekas mereka di kafe.
Peristiwa yang paling membekas bagi Shabandar ialah bom mobil pada 2007 di Jalan Al-Mutanabbi, tempat kafe tersebut berdiri.
Serangan mematikan sektarian itu menewaskan sekitar 100 orang termasuk empat putra dan cucu pemilik Shabandar, Mohammed al-Khashali.
Akan tetapi, Khashali tidak ingin larut dalam kesedihan dan, hari ini, irama gelas teh berdenting, pipa hookah menguap, dan perbincangan terdengar di sana.
"Duduk di sini seperti duduk di buku sejarah," kata pemiliknya.
Saat baru berdiri pada 1917, bangunan batu bata dan plester itu sudah menjadi institusi lokal, sebagai percetakan pedagang Abdel Majid al-Shabandar atau pedagang terbesar dalam bahasa Turki.
Khashali mengambil alih pada 1963 dan membuat keputusan yang tegas, yakni larangan semua permainan, termasuk kartu dan domino.
Langkah itu mengejutkan pelanggan, tapi janji tetap dilakukan.
"Ini menjadi tempat di mana orang-orang budaya akan bertemu. Itulah yang terjadi," imbuh Khashali.
Kafe itu tidak disediakan untuk agama, budaya, atau bagian masyarakat tertentu.
Semua orang diterima di sana, menurut pelanggan tetap kafe, Noeimi.
Pelayan berjalan di antara pelanggan, mengisi gelas mereka dengan teh panas, tanpa disadari mereka yang tengah berbincang, (AFP/Irene Harty/I-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved