Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PERUNDINGAN untuk mendukung Kesepakatan Paris yang dibuat lebih dari dua dekade ditutup di Bonn, Jerman, kemarin (Sabtu, 18/11). Pembicaraan gembos, tetapi tidak gagal akibat penolakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang berkeras mempertahankan penggunaan bahan bakar fosil.
Keputusan Trump untuk menarik AS dari pakta global membayangi perundingan, yang berlangsung hingga larut malam. Negosiasi ditandai dengan timbulnya kembali perpecahan antara negara-negara berkembang dan kaya.
Hampir 200 negara melanjutkan usaha merancang buku panduan untuk memberlakukan kesepakatan tersebut, yang mulai berlaku penuh dalam waktu tiga tahun.
“Pemerintah Trump gagal menghentikan perundingan iklim global agar tidak bergerak maju,” kata pengamat Greenpeace, Jens Mattias Clausen.
Saat menutup dua pekan perundingan, para negosiator sepakat pada dini hari kemarin untuk melaksanakan inventarisasi pada 2018 mengenai upaya nasional dalam mengurangi emisi bahan bakar fosil.
Perjanjian Paris menyerukan pembatasan pemanasan global rata-rata untuk ‘di bawah’ dua derajat Celcius (3,6 derajat Fahrenheit) jika dibandingkan dengan tingkat era praindustri atau 1,5 C jika memungkinkan.
Jika kondisi iklim tetap berada di atas 2 C, para ahli memperingatkan akan menyebabkan perubahan iklim yang mengerikan, dengan badai super, kekeringan, banjir, dan kenaikan permukaan laut yang menelan daratan.
Sebuah laporan minggu ini memperingatkan bahwa emisi karbon dioksida, penyebab utama masalah gas rumah kaca, meningkat 2% pada 2017 setelah tiga tahun hampir tidak ada pertumbuhan.
“Mulai sekarang, emisi harus turun menjadi nol selama 40 tahun ke depan untuk mencegah kita melanggar ambang batas 1,5 C,” kata Piers Forster, seorang profesor perubahan iklim di Universitas Leeds, Inggris.
Negara-negara telah mengajukan komitmen pemangkasan emisi berdasarkan Perjanjian Paris yang diperjuangkan oleh pendahulu Trump, Barack Obama.
Batu bara saat ini memasok sekitar 40% kebutuhan energi di seluruh dunia. Namun, emisi CO2 batu bara sangat tinggi dan bertanggung jawab untuk pemanasan bumi dan efek rumah kaca.
Di Konferensi Iklim COP23 di Bonn, beberapa negara antara lain Inggris dan Kanada memperkenalkan Aliansi Antibatu Bara. Yang bergabung dalam aliansi itu, antara lain, Fiji, Finlandia, Denmark, Belanda, Italia, Austria, Portugal, Meksiko, Costa Rica, Selandia Baru, dan beberapa negara bagian di AS. Anggota aliansi itu ingin mengakhiri penggunaan energi batu bara selambatnya sampai 2030.
Saat ini ada 20 negara yang bergabung dalam aliansi yang dinamakan Powering Past Coal Alliance itu. (AFP/DW/Hym/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved