Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
JANDA dan sebatang kara, Umme Kulthum, 21, berharap bisa memulai hidup baru di Bangladesh. Namun, sejak melarikan diri untuk menyelamatkan nyawanya dari tindakan brutal aparat keamanan Myanmar, ia justru dimangsa sindikat perdagangan manusia.
Ia menjadi korban yang digambarkan kelompok bantuan dan para pejabat sebagai momok perdagangan manusia yang terus berlanjut dengan sasaran para pengungsi.
Perempuan dan anak-anak menjadi kelompok terbesar dari lebih 600 ribu muslim Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar ke negara tetangga, Bangladesh. Banyak dari mereka hanya membawa pakaian yaang melekat di badan mereka.
Diimpit kebutuhan hidup di tempat baru di dekat perbatasan tanpa prospek kerja, para pengungsi berjuang menjalani apa pun yang bisa mereka lakukan untuk bisa bertahan hidup. Banyak yang kemudian menjadi korban perdagangan manusia, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Kulthum ialah salah satu dari korban itu. Ia kehilangan suaminya dalam kekerasan etnik yang merobek-robek Negara Bagian Rakhine, Myanmar, tahun ini.
Terpisah dari orangtua dan anak-anaknya selama perjalanan ke Bangladesh, dia didatangi seorang pria Rohingya setelah tiba di Kutupalong, sebuah kamp raksasa yang menampung ratusan ribu pengungsi.
Si pria menawarkan diri untuk menikahinya dengan menawarkan masa depan yang lebih cerah dari kemelaratan kamp dan kesempatan untuk membuang jauh kenangan buruknya.
Namun, pasangan itu tak kunjung menikah. Sebaliknya, Kulthum bukan nama sebenarnya mengatakan dia dibawa ke rumah bordil. Di sana ia dicekoki methamphetamine dan dipaksa berhubungan seks dengan tujuh pria setiap hari.
Belakangan ia sadar si pria yang berjanji menikahinya telah dibayar 8.000 taka (Rp1,3 juta) sebagai imbalan untuk membawanya rumah bordil itu.
"Saya sangat takut, tapi sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi," ujarnya di distrik perbatasan Cox's Bazar. "Saya dijual untuk menjadi pelacur," ujarnya sambil menangis mengingat cobaan tersebut.
IOM mencatat gadis-gadis muda khususnya berisiko menjadi mangsa perdagangan manusia. Lembaga ini mendokumentasikan banyak kasus pengungsi terpikat dengan janji pernikahan atau pekerjaan di kota-kota besar. Namun, mereka ujung-ujungnya dipaksa terlibat prostitusi.
"Dalam satu kasus, sejumlah gadis remaja, yang dijanjikan bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Cox's Bazar dan Chittagong, dipaksa melakukan pelacuran," kata IOM dalam sebuah pernyataan pekan ini. Bangladesh telah menempatkan Batalion Aksi Cepat ke Cox's Bazar untuk menindak pelaku perdagangan manusia. (AFP/Hym/I-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved