Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Semangat Perubahan Putra Mahkota Saudi

Haufan Hasyim Salengke
27/10/2017 07:41
Semangat Perubahan Putra Mahkota Saudi
(Tim Riset MI/L-1)

DALAM upaya memo­dernisasi negara dan menarik lebih banyak lagi investor internasio­nal, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, berjanji akan membawa negerinya ke Is­lam yang moderat.

Pangeran berusia 32 tahun itu mengemukakan kabar menggembirakan tersebut pada konferensi Future Investment Initiative (FII) di Riyadh, Selasa (24/10).

“Kami kembali ke masa sebelumnya, sebuah negara dengan Islam moderat yang terbuka un­tuk semua agama dan dunia. Kami tidak akan menghabiskan 30 tahun ke depan dengan ide-ide destruktif. Kami akan menghancurkan itu semua hari ini,” kata Putra Mahkota penyandang gelar sarjana hukum dari Universitas King Saud tersebut.

Ahli waris takhta Kerajaan Saudi itu berpidato di depan ribuan investor global dan pejabat dari berbagai negara yang berkunjung ke Riyadh untuk menyaksikan langsung perubahan masyarakat dan perekonomian di negara itu.

Pangeran berkata, “Arab Saudi tidak seperti ini sebelum 1979. Kami ingin kembali ke posisi kami, Islam moderat yang terbuka untuk semua agama. Kami ingin menjalani kehidupan normal.”

Pidato Pangeran Mohammed bin Salman itu mengembuskan harapan baru untuk negara yang tengah menjalankan reformasi ekonomi dan sosial yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kini Saudi berusaha keras mengurangi ketergantungan pendapatan dari minyak bumi sembari menciptakan ribuan lapangan kerja baru bagi kalangan muda.

Mohammed bin Salman menambahkan bahwa sekitar 70% penduduk Saudi berusia di bawah 30 tahun, dengan jutaan kaum muda Saudi akan memasuki bursa kerja di dekade berikutnya.

Di saat bersamaan, di dalam negeri, pemerintah Saudi juga menghadapi tantangan sosial yang tidak kalah hebatnya ketika meng­akhiri larangan mengemudi bagi perempuan dan mengisyaratkan untuk membuka lebar-lebar pintu investasi di sektor hiburan.

Menumpulkan terorisme

Tahun lalu Mohammed meng­ungkapkan rencana ambisius yang dikenal sebagai Vision 2030, termasuk di dalamnya usulan swastanisasi sebagian perusaha­an minyak negara Aramco lewat penjualan saham dan juga pembentukan dana investasi negara terbesar di dunia.

Dalam meniadakan pengaruh ultrakonservatif, sejak mengge­ser pamannya, Muhammad bin Na­yef, sebagai calon penerus takh­ta, Salman mengangkat pena­sihat pribadi yang berpandang­an bahwa kerajaan terancam jika masyarakat tidak berubah.

Salman menilai doktrin kaku yang mendominasi hampir di semua lini kehidupan selama 30 tahun terakhir sebagai tidak normal. Dalam wawancara dengan The Guardian, Salman mengakui para pemimpin monarki di masa lalu tidak tahu bagaimana bereaksi terhadap Revolusi Islam Iran dan lebih memilih ideologi tertutup untuk melindungi kerajaan dari momok revolusi.

Pekan lalu, Kementerian Kebudayaan dan Informasi Kerajaan membuat rencana untuk memantau penafsiran ajaran Islam yang disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan dan terorisme.

Hamdan Al-Shehri, analis politik di Riyadh, menilai usaha Saudi selama dua tahun terakhir mulai berbuah. “Arab Saudi memimpin koalisi anti-IS dan juga kampanye melawan teror dan ideologi ekstremis. Kampanye itu telah menumpulkan terorisme.”

Dia mengatakan Saudi, di bawah kepemimpinan Raja Salman dan Putra Mahkota Mohammed, telah menunjukkan melalui kata dan aksi komitmen memberantas ekstremisme dan terorisme. (AFP/Arab News/Hym/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Panji Arimurti
Berita Lainnya