Headline

Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.

Oposisi tidak Mampu Saingi Partai Pengusung Abe

20/10/2017 08:39
Oposisi tidak Mampu Saingi Partai Pengusung Abe
()

PETA kekuatan politik di Jepang ke depan diprediksi masih dikuasai Partai Liberal Demokrat. Menurut hasil survei, partai pengusung Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe itu berada di koridor untuk meraih kemenangan atas oposisi.

Pihak oposisi saat ini diduga dalam kondisi lemah dan terpecah. Karena itu, meskipun popularitas Abe dan pemerintahannya tergerus, oposisi tetap tidak mampu menandingi sang petahana.

“Tidak ada partai oposisi di Jepang yang mampu menghadirkan pemimpin dengan kebijakan alternatif,” kata pengamat politik Soichiro Tahara.

Selama kepemimpinan Abe, dia mempertahankan kebijakan tanpa kompromi terhadap Korea Utara (Korut). Langkah itu bertujuan menekan rezim Pyongyang secara maksimal.

Hal lain yang dilakukan Abe ialah mengumumkan pemungutuan suara dipercepat pada bulan lalu. Meski para kritikus menuding dia berusaha mengalihkan perhatian dari serangkaian skandal, Abe tetap berkukuh pada keputusannya.

Pemilu tersebut otomatis mengubah panggung politik Jepang. Di sisi lain, Gubernur Tokyo Yuriko Koike mengumumkan pembentuk­an sebuah koalisi baru yang langsung menyedot perhatian partai-partai oposisi utama.

Saat berpidato, Koike me­lontarkan janji meng­akhiri politik tua di Jepang dan menggantinya dengan Party of Hope (Partai Harapan) miliknya.

Dia juga mengampanyekan penghapusan tenaga nuklir. Seperti diketahui, negara itu hingga kini masih diliputi krisis nuklir akibat tragedi Fukushima pada 2011.

Meski datang dengan ide-ide baru, tanggapan skeptis tetap muncul menyerangnya. Para kritikus menyoroti kebijakan Koike karena tidak mengusulkan alternatif konkret terhadap partai konservatif yang telah mendominasi politik pascaberakhirnya perang yang melibatkan Jepang.

“Untuk sesaat, orang Jepang mengira bahwa Koike mungkin pilihan yang baik. Namun, setelah melihat bagaimana dia mengatasi berbagai masalah, mereka akan segera menyadari bahwa dia tidak melakukannya,” kata Profesor Politik dari Universitas Gakushuin, Naoto Nonaka.

Pengamat politik lain berpendapat, untuk para pemilih yang tidak merasakan banyak perbedaan di antara kedua kandidat, itu telah membuka peluang kepada kontestan lain, yaitu Partai Demokrat Konstitusional. Partai itu kini mendapat panggung. (AFP/Arv/I-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya