Headline

Menkeu disebut tidak berwenang mengganti pejabat, terutama untuk eselon I dan II.  

Kapal Lebih Muatan, Belasan Pengungsi Rohingya Tewas Tenggelam

Irene Harty
09/10/2017 19:59
Kapal Lebih Muatan, Belasan Pengungsi Rohingya Tewas Tenggelam
(AFP PHOTO / INDRANIL MUKHERJEE)

MUSIBAH kembali menimpa para pengungsi Rohingya. Sedikitnya 12 pengungsi Rohingya tewas dan puluhan lainnya hilang saat kapal yang mengangkut mereka melarikan diri dari negara bagian Rakhine, Myanmar, tenggelam pada Minggu (8/10) sekitar pukul 10:00 WIB.

Peristiwa itu terjadi di mulut Sungai Naf yang memisahkan Myanmar dengan Bangladesh, menurut Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB), Abdul Jalil pada Senin (9/10).

Pejabat penjaga pantai dan perbatasan mengungkapkan kapal tersebut kelebihan muatan karena berisi sekitar 100 orang. Jalil menyebutkan 12 mayat yang ditemukan terdiri dari 10 anak, seorang perempuan tua, dan seorang laki-laki dewasa.

Namun, kapal penjaga perbatasan telah berhasil menyelamatkan 13 orang Rohingya termasuk tiga perempuan dan dua anak setelah menyisir muara sungai Naf. Media lokal mendapat informasi dari korban selamat bahwa kapal tenggelam karena gelombang tinggi dan cuaca buruk.

Komandan Penjaga Pantai Daerah Bangladesh, Alauddin Nayan mengatakan kapal tersebut terbalik di dekat desa pesisir Galachar.

"Sekitar 40 orang di kapal tersebut adalah orang dewasa Rohingya yang melarikan diri dari desa mereka di Rakhine. Sisanya adalah anak-anak," ungkapnya.

Pekan lalu, lebih dari 60 pengungsi Rohingya juga dikabarkan meninggal karena kapal yang mereka tumpangi terbalik akibat cuaca buruk di Teluk Benggala, lepas pantai Bangladesh.

Sebanyak 23 mayat ditemukan dengan perkiraan korban tewas lebih banyak mengingat anak-anak terlalu lemah untuk berenang.

Secara total sekitar 150 orang Rohingya, mayoritas anak-anak, telah menjadi korban saat menyeberang ke Bangladesh dengan perahu kecil nelayan yang tidak layak untuk laut bergelombang.

Krisis kemanusiaan di Rakhine kembali muncul setelah pos polisi Myanmar diserang militan Rohingya pada 25 Agustus. Serangan yang dibalas dengan operasi militer itu dipandang sebagai ‘pembersihan etnis’ militer oleh PBB.

Di tengah kekerasan terburuk yang mereda, kekurangan pangan, ketegangan, dan ketidakamanan masih mendorong ribuan orang Rohingya untuk menyeberang ke Bangladesh.

Tetapi Bangladesh pun membuat perjalanan semakin sulit dengan menghancurkan sekitar 30 kapal penangkap ikan yang dituding menyeludupkan orang Rohingya dan obat-obatan terlarang ke Bangladesh.

Pemilik kapal, kru, dan nelayan telah memanfaatkan pengungsi Rohingya yang akan melarikan diri dengan meminta bayaran US$250 untuk perjalanan dua jam dari harga normal US$5. (AFP/X-12)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Ahmad Punto
Berita Lainnya