Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
"DI saat seluruh umat Islam di dunia merayakan Idul Adha, mereka tidak bisa salat. Mereka harus mengorbankan orang tua, ibu, anak-anak mereka. Kalau kita di sini mengurbankan sapi tapi saudara kita di sana mengurbankan semuanya, ya Allah".
Begitulah sepenggal cerita yang datang dari Relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk Rohingya yang juga Pemimpin Tim Komunikasi, Faisol Amrullah, yang telah kembali dari Rakhine, Myanmar, pada konferensi pers di Media Center for Rohingya ACT di Jakarta, Senin (11/9).
Dengan nada sedih Faisol mengungkapkan para pengungsi yang tidur di terpal dan sulit mendapat akses pangan dan kesehatan terutama untuk anak-anak.
"Saat ini, per detik ini sudah 300 ribu yang menyeberang ke Bangladesh tapi 100 ribu orang lainnya masih stuck on the way ke Bangladesh. Kenapa ke Bangladesh, karena amannya ke sana, kalau ke ibu kota mereka akan bertemu dengan laras panjang," imbuhnya.
Namun perjalanan mereka yang menyeberangi Sungai Naf bukan tanpa tantangan apalagi di sana sedang musim hujan. Lebatnya hujan ditambah baju apa adanya, sampai minum air genangan coklat untuk bertahan diperlihatkan dalam video yang ditayangkan ACT.
Oleh sebab itu, bila ada pihak yang mengatakan berita itu hanya bohong belaka, Faisol mengajak untuk berkunjung ke sana. "Come on come here. Sedih sekali ketika kami berjuang di sana ada persepsi-persepsi negatif di sini," lanjutnya.
Dia juga menyayangkan akses media yang tertutup dan mengingatkannya kembali pada masa operasi kekerasan di Aceh. Namun ACT boleh berlega hati karena saat kekerasan meletus yakni pada 25 Agustus, para relawan ACT sudah berada di lokasi.
"Jadi Alhamdullilah ya, distribusi yang kita salurkan adalah yang pertama, memang pas momen di sana adalah kurban jadi kita tidak mencuri start tapi Allah menakdirkan kita di sana. Memang Myanmar dan Bangladesh adalah dua negara yang sering kita bantu," jelasnya.
Keberadaan para relawan ACT saat kekerasan terjadi membuat citra Indonesia di mata etnis Rohingya sangat positif.
Akan tetapi, Faisol seperti smeua pihak berharap tragedi kemanusiaan yang cenderung genosida itu segera berakhir sehingga 1,1 juta dari tujuh juta populasi etnis Rohingya dahulu dapat diselamatkan.
"Sampai kami meninggalkan Myanmar belum ada tanda-tandanya (selesai). Saat ini kita berdoa dan ACT akan terus mendistribusikan bantuan kemanusiaan sebagai amanah yang diberikan," tuturnya.
Relawan ACT lainnya, Suryadi menyebutkan bantuan yang disalurkan telah mencapai 500 paket atau sekitar 12 ton yang terdiri dari beras, terigu, kentang, cabe, bawang dan minyak sayur. Jumlah bantuan itu cukup untuk satu bulan.
Dalam kepiluan, dia menggambarkan seorang anak berumur 50 hari harus digendong menyeberangi Sungai Naf dalam keadaan hujan deras. Ada pula orang tua jompo yang juga harus digendong saat melarikan diri ke Bangladesh.
"Begitulah keadaan yang saat ini terjadi," sahutnya. Mobilitas para relawan juga sangat terbatas dengan jalur yang ditentukan dan diantarjemput dengan mobil dmei alasan keamanan.
"Ketika kami masih di sana, informasi yang kami dapat bahwa pada tanggal 5 September, seorang ulama, C Faizul Islam, yang sudah tua yang ingin melarikan diri ke Bangladesh dihabisin, kepalanya pecah. Bisa kita bayangkan kekejaman kemanusiaan macam apa ini," ungkap Suryadi.
Baginya, kedamaian belum dapat ditemukan di Rakhine karena kedamaian dapat diperoleh lewat solusi yang bersifat manusiawi. "Di mana kemanusiaan?" (X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved