Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
SIKAP diam tokoh politik Myanmar Aung San Suu Kyi atas kekerasan yang terjadi terhadap minoritas muslim Rohingya membuat kecewa banyak pendukungnya. Selain mengecam keras sikap Suu Kyi, mereka kini mulai meninggalkannya karena menganggap sudah tidak bisa mengharapkannya.
"Kami tidak bisa mengharapkannya untuk mengubah seluruh negeri dalam satu setengah tahun. Namun kami mengharapkan pendekatan berbasis kemanusiaan yang kuat," ujar Ma Thida mengenai mentornya yang dulu ia juluki "saudari yang selalu bersemayam di hati" itu.
Thida yang kini seorang dokter dan novelis tiada kenal lelah mendukung Suu Kyi. Dia kenyang ditodong senjata militer. Bahkan peraih sejumlah penghargaan HAM internasional itu nyaris tewas saat enam tahun ditahan junta militer lantaran mendukung Suu Kyi.
Namun kini, Thida dan juga pendukung-pendukung garis keras Suu Kyi lainnya berbalik menudingnya mengabaikan kekerasan negara terhadap etnik minoritas dan Muslim, menahan jurnalis dan aktivis, tunduk pada jenderal-jenderal Myanmar dan gagal untuk membangun regenerasi demokrasi yang akan menggantikannya.
Sebaliknya, kata mereka, Suu Kyi justru menciptakan kekosongan kekuasaan yang bisa diisi militer. Sebagian lainnya justru menuding peraih Nobel Perdamaian itu sebenarnya memiliki jiwa otoriter yang hanya muncul ketika dia berkuasa.
Seperti juga para pendukungnya, masyarakat internasional juga mengecam Suu Kyi yang tidak bertindak atau mengecam kekerasan terhadap muslim Rohingya. Sejak 2012 warga minoritas ini mendapat perlakuan brutal dari militer dan masyarakat Budha yang mendominasi negeri itu.
Menurut laporan Human Rights Watch sedikitnya 1.000 muslim Rohingya tewas dan 320 ribu lainnya tinggal di kamp-kamp kumuh di Myanmar dan Bangladesh akibat kekerasan tersebut. Ribuan lainnya melarikan diri ke negara-negara Asia Tenggara.
Dalam kekerasan lainnya oleh militer yang meletus sejak Jumat (25/8), sedikitnya 18.500 Rohingya telah melarikan diri menuju Bangladesh. Kekerasan itu juga menewaskan sedikitnya 110 orang tewas termasuk 11 pejabat negara.
"Sejak malam lalu, 18.500 orang telah menyebrang," ungkap Chris Lom, juru bicara International Organization for Migration untuk Asia-Pasifik, kemarin.
Melalui kantornya Suu Kyi menyebut bahwa polisi dan militer tengah melancarkan operasi pembersihan. Dia justru mengecam militan Rohingya yang telah mencoba menghambat upaya menciptakan perdamaian dan harmoni di negara bagian Rakhine. (AFP/AP/X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved