Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
BANGLADESH menawarkan Myanmar untuk melakukan operasi militer bersama dalam menumpas Tentara Penyelamatan Arakan Rohingya (ARSA) di negara bagian Rakhine. Negara pecahan India itu juga mencegat para pengungsi Rohingya yang melarikan diri dari kekejaman militer Myanmar.
"Jika Myanmar mau, aparat keamanan kedua negara bisa melakukan operasi bersama untuk menumpas kelompok militan, aktor-aktor nonnegara atau Tentara Arakan di sepanjang perbatasan Bangladesh-Myanmar," kata seorang pejabat kementerian luar negeri Bangladesh yang tidak mau disebut namanya.
Tawaran kerja sama itu disampaikan dalam pertemuan kedua negara di Dhaka, Bangladesh, Selasa (29/8).
ARSA merupakan kelompok muslim Rohingya yang mengangkat senjata untuk melindungi warga minoritas itu dari tindakan semena-mena militer Myanmar. Kelompok kecil ini terbentuk setelah bertahun-tahun minoritas Rohingya mengalami penyiksaan oleh militer Myanmar. Mereka mulai mengangkat senjata sejak Oktober tahun lalu dengan menyerang sejumlah pos keamanan Myanmar.
Serangan mereka kian gencar sejak Jumat (25/8). Untuk menumpas kelompok tersebut, Myanmar menggelar operasi sapu bersih terhadap warga Rohingya di Rakhine. Sedikitnya 100 orang tewas dalam operasi tersebut, dengan sekitar 80 di antaranya adalah anggota ARSA sejak operasi itu digelar.
Operasi sapu bersih militer Myanmar itu juga menyebabkan sekitar 87 ribu warga Rohingya melarikan diri ke negara tetangga, Bangladesh, untuk menghindari pembunuhan atau pemerkosaan. Sedikitnya 6.000 warga sipil Rohingya tersebut kini terlunta-lunta di dekat perbatasan Bangladesh. Mereka dicegat untuk memasuki negara itu.
"Sekitar 6.000 warga Myanmar (Rohingya) berkumpul di perbatasan dan mencoba memasuki Bangladesh," ujar seorang pejabat senior Penjaga Perbatasan Bangladesh (BGB).
Kondisi tersebut mendorong PBB mendesak Dhaka untuk membuka pintu bagi para pengungsi tersebut. "Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sangat prihatin atas laporan banyaknya warga sipil dibunuh selama operasi keamanan di negara bagian Rakhine," demikian pernyataan yang dikeluarkan juru bicara Sekjen PBB Stephane Dujarric.
Dia menyerukan Bangladesh untuk meningkatkan bantuan terhadap warga sipil yang mencoba untuk melarikan diri dari kekerasan. "Sebagian besar yang melarikan diri adalah perempuan dan anak-anak. Banyak di antara mereka yang terluka," tegasnya.
Badan kemanusiaan PBB Human Rights Watch mengatakan mereka memiliki data satelit yang menunjukkan telah terjadi pembakaran meluas di sekitar 10 permukiman di pinggiran negara bagian Rakhine yang berbatasan dengan Bangladesh. Desa-desa yang terbakar tersebut termasuk desa-desa minoritas muslim Rohingya. (AFP/X-12)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved