Headline

Presiden mengecam keras tindakan keji yang menyebabkan gugurnya para prajurit TNI.

Al-Aqsa Harus Kembali ke Status Quo

Haufan Hasyim Salengke
27/7/2017 06:29
Al-Aqsa Harus Kembali ke Status Quo
(Pekerja membongkar detektor logam di luar kompleks Masjid Al Aqsa di Kota Tua Yerusalem, Selasa (25/7) dini hari. -- AP Photo/Mahmoud Illean)

PEMERINTAH Indonesia menyatakan Israel harus mengembalikan situasi di Kompleks Mas­jid Al-Aqsa di Jerusalem Ti­mur ke status quo dan juga mengusulkan pembentukan per­lindungan internasional untuk menjamin keamanan ma­syarakat Palestina dalam ber­ibadah.

“Komunitas internasional dapat menggali opsi-opsi untuk memastikan Kompleks Masjid Al-Aqsa tetap mendapat pengawasan dan perlindungan internasional PBB sehingga seluruh jemaah dapat melaksanakan kegiatan ibadah dengan harmo­nis dan damai,” ujar Wakil Te­tap Indonesia untuk PBB, Triansyah Djani, dalam debat terbuka Dewan Keamanan PBB mengenai situasi di Pa­lestina dan Timur Tengah di Markas Be­sar PBB, New York, Amerika Serikat, Selasa (25/7).

“Indonesia tidak dapat menerima penggunaan kekerasan dan tidak dapat menoleransi kekerasan sistemik serta pelanggaran terhadap hak-hak dasar bangsa Palestina, termasuk hak menjalankan ibadah keagamaan,” tambah Djani.

Menurut dia, sikap Indonesia tegas bahwa 50 tahun pendudukan Israel terhadap Palestina sudah terlalu lama.

“Masyarakat internasional tidak bisa menunggu 50 tahun lagi untuk kebebasan Palesti­na,” ungkap Triansyah.

Pernyataan wakil Indonesia di Dewan Keamanan PBB itu juga merupakan manifestasi dari pengarahan Menlu Retno Marsudi kepada para duta besar negara-negara anggota OKI di Jakarta, Selasa (25/7).

Hal senada disampaikan Pre­siden Palestina Mahmoud Abbas bahwa situasi harus di­kembalikan ke status quo se­perti sebelum peristiwa 14 Juli 2017. “Takkan ada perubah­an dalam posisi Palestina,” kata Abbas dalam pertemuan da­rurat di Ramallah, Palestina, kemarin.

Menurut kantor berita Xinhua yang mengutip laporan kantor berita Palestina, WAFA, pertemuan itu dihadiri pejabat dari Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Partai Fatah, dan unit keamanan Palestina.

“Semua tindakan yang dilakukan terhadap Masjid Al-Aqsa setelah 14 Juli mesti dibatalkan dan diakhiri. Situasi di Jerusa­lem harus kembali normal, la­lu kami akan melanjutkan hubungan dengan Israel,” kata Abbas.

Demonstrasi berlanjut
Warga Palestina kemarin te­tap berdemonstrasi sebagai protes terhadap Israel meski negeri Yahudi itu telah mencopot detektor logam di Kompleks Masjid Al-Aqsa.

Perdana Menteri Palestina Rami Hamdallah menyatakan tidak dapat menerima tindak­an Israel mengganti detektor logam dengan metode lain seperti kamera pengawas.

“Kami menolak semua hambatan yang menghalangi kebebasan beribadah dan kami menuntut kembalinya situasi ke kondisi sebelum 14 Juli,” tegas Hamdallah.

Para pakar politik mengata­kan kamera pengawas merupa­kan ancaman yang jauh lebih besar bagi orang-orang Palestina dan menjadi pelanggaran lain oleh Israel terhadap hukum internasional.

“Kamera-kamera tersebut akan dapat mendeteksi wajah dan identitas, dan itu berarti Israel memberlakukan kontrol penuh atas wilayah Al-Haram al-Sharif,” kata analis politik Khalil Shaheen.
Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan men­de­sak umat Islam untuk mengunjungi dan melindungi Jerusalem.

Bagi Erdogan, tindakan ­Israel mencabut detektor logam di Kompleks Masjid Al-Aqsa dinilai belum cukup untuk meredakan ketegangan. (AFP/Aljazeera/Ant/X-11)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya