Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Menangi Pemilu,Fretilin Siap Berkoalisi

(AP/AFP/Arv/I-1)
24/7/2017 08:05
Menangi Pemilu,Fretilin Siap Berkoalisi
()

HASIL awal penghitungan suara pemilihan parlemen Timor Leste menunjukkan Partai Fretilin meraih suara terbanyak. Namun, perolehan suara partai yang dipimpin Presiden Francisco Guterres itu tidak cukup untuk menjalankan pemerintahan sendirian.
Dengan lebih dari 90% peroleh-an suara yang telah dihitung, Minggu (23/7), Fretilin atau Front Revolusioner untuk Kemerdekaan Timor Leste, meraih 30% suara. Mitra Fretilin dalam koalisi pemerintahan persatuan, Kongres Nasional untuk Rekonstruksi Timor Leste (CNRT), mengantongi 28% suara.

Raihan suara partai yang dipimpin pahlawan kemerdekaan Timor Leste Xanana Gusmao itu turun dari pemilu pada 2012 ketika mereka mampu meraup 36,7% suara. Penurunan dukungan untuk CNRT menunjukkan rasa frustrasi atas lambannya kemajuan ekonomi dan kekhawatiran terhadap korupsi di pemerintahan. Kedua parta terbesar yang kini memerintah Timor Leste itu diperkirakan akan tetap bersatu dalam koalisi. Raihan suara terbanyak ketiga didapat Partai Kemerdekaan Rakyat (PLP), sebuah kekuatan politik baru yang dipimpin mantan Presiden Taur Matan Ruak, dan Partai Demokrat yang masing-masing meraup sekitar 10% suara.

Atas perolehan suara tersebut, Sekretaris Jenderal Partai Fretilin Mari Alkatiri mengatakan pihaknya terbuka untuk membentuk koalisi dengan CNRT, seraya disambut tepuk tangan dan nyanyian Viva Fretilin. Pemungutan suara yang digelar pada Sabtu (22/7) tersebut merupakan pemilihan parlemen Timor Leste pertama tanpa pengawasan PBB, sejak pasukan penjaga perdamaian itu hengkang dari 'Bumi Lorosae' itu pada 2012. Sebanyak 21 partai bersaing dalam pemilihan parlemen ini.

Mereka harus mampu meraup lebih dari 4% suara untuk mendapatkan kursi di parlemen. Pemilihan diikuti sekitar 760 ribu pemilih yang berhak dari 1,2 juta rakyat negeri bekas jajahan Portugis itu. Hasil pemilihan parlemen akan menentukan pilihan perdana menteri, jabatan yang paling berpengaruh di negeri itu.

Di sisi lain, posisi presiden merupakan jabatan seremonial. Pemerintahan baru akan menghadapi tantangan berat. Saat ini, negeri itu masih menghadapi kemiskinan, kekurang-an air bersih dan sanitasi, serta tingkat pengangguran yang tinggi.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya