Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

Pemilu PNG Dinilai Sukses

11/7/2017 10:09
Pemilu PNG Dinilai Sukses
(AFP)

MESKIPUN diwarnai sejumlah kekerasan, pembelian suara, dan kecurangan dalam daftar pemilih, pemilihan umum (pemilu) di Papua Nugini (PNG) dinilai pengamat telah memunculkan hasil yang mencerminkan kehendak rakyat negeri itu.

Penghitungan suara masih berlangsung setelah dua minggu pemungutan suara di negara yang luas dan terpencil itu berakhir pada Sabtu (8/7).

"Kelompok kami berpendapat bahwa meskipun ada tantangan yang cukup besar pada daftar pemilih, ada beberapa aspek positif dari proses tersebut dan hasilnya harus mencerminkan keinginan orang-orang yang berpartisipasi dalam pemilihan nasional 2017," ujar Anand Satyanand, Kepala Commonwealth Observer Group (COG), yang memantau pemungutan suara di PNG.

Hasil akhir mungkin akan diperoleh setelah beberapa pekan, tapi pemimpin negara Pasifik itu, Peter O'Neill dari Kongres Rakyat Nasional (PNC) yang berkuasa, pada Minggu (9/7) mengatakan yakin akan meraih kemenangan.

Pemilu sendiri bertujuan memilih 111 anggota parlemen.

"Rakyat bangsa kita sekarang telah memilih, dan saya berharap untuk mendapatkan lebih banyak kursi dan memulai tugas membentuk pemerintahan PNG berikutnya ketika parlemen kembali pada Agustus," ujarnya.

Menjelang pemilihan, O'Neill telah menyampaikan sejumlah prestasi pemerintahnya sejak terpilih pada 2012.

Dia menjanjikan infrastruktur utama serta pendidikan dan kesehatan gratis bagi penduduk PNG.

Rival utama O'Neill ialah Don Polye dari Triumph Heritage Empowerment Party yang menuding O'Neill salah urus pemerintahan.

Polye juga telah melaporkan bahwa setidaknya satu pemilih gagal memberikan suara karena kecurangan pemilu.

Pemilu di PNG tidak disertai dengan jajak pendapat sehingga partai yang akan memenangi pemilu ini tidak bisa diketahui.

Meski pelaksanaannya dinilai berhasil, banyak warga memprotes karena tidak terdaftar sebagai pemilih dan tempat pemungutan kehabisan kartu pemilih.

Di kota terbesar kedua di PNG, Lae, sejumlah siswa membakar surat suara setelah wilayah tersebut kekurangan surat suara.

Kekerasan terkait dengan pemilu juga dilaporkan terjadi di tempat lain.

Satyanand mengakui bahwa masyarakat PNG 'layak mendapat yang lebih baik' dan meminta pihak berwenang untuk melakukan proses tinjauan dan pembelajaran yang mendesak segera setelah pemilihan ini dan meningkatkan keakuratan daftar pemilih. (AFP/Ihs/I-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya