Headline

Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.

G-20 Komit Perangi Proteksionisme

Anastasia Arvirianty
09/7/2017 06:30
G-20 Komit Perangi Proteksionisme
()

PARA kepala negara anggota G-20 dalam konferensi tingkat tinggi, yang berakhir kemarin di Hamburg, Jerman, sepakat untuk bersama-sama memerangi proteksionisme.

Keputusan itu dicapai di tengah sikap keras kepala AS yang masih ingin berbuat lebih banyak untuk melindungi perusahaan domestik mereka dari persaingan luar negeri melalui kebijakan America First.

"Kini bagaimana negara-negara G-20 mewujudkan keseimbangan dan mekanisme perdagangan yang saling menguntungkan," kata pejabat di Sekretariat KTT G-20, kemarin.

Presiden RI Joko Widodo dalam pertemuan dengan Presiden AS Donald Trump di Ruang Hamburg Messe Und Congress, menurut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Arrmanatha Nasir, menekankan pentingnya kerja sama ekonomi lebih terbuka dan penanggulangan terorisme di antara anggota G-20.

"Saya ingin menyampaikan salam dari jutaan penggemar Anda di Indonesia," ujar Jokowi mencairkan suasana di awal pembicaraannya dengan Trump.

"Kami peduli terhadap ekspor minyak sawit ke AS untuk kebutuhan biodiesel. Indonesia pun mengimpor kedelai dalam jumlah besar. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan perdagangan bilateral yang saling menguntungkan. Kini perdagangan Indonesia dengan AS sangat bervariasi, mulai minyak sawit, kedelai, hingga pesawat terbang," lanjut Jokowi.

Bahkan, ketika berjumpa Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, Jokowi pun mendesak Negeri Kincir Angin itu ikut membantu membukakan pintu ekspor minyak sawit dari Indonesia ke kawasan Eropa.

Tidak lupa Jokowi merujuk Kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa yang banyak membantu pengembangan kerja sama ekonomi RI-Belanda.

Dalam pertemuan Jokowi dengan Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull, kedua kepala pemerintahan sepakat meningkatkan kerja sama perdagangan melalui mekanisme Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement tahun ini selain kerja sama penanggulangan terorisme.

Pun pertemuan dengan Perdana Menteri Spanyol Mariano Rajoy Brey, Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg, dan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in, Jokowi optimistis ketiga negara itu menyetujui peningkatan nilai perdagangan dengan Indonesia.

Terkait komitmen Agenda 2030 di antara negara-negara G-20, yakni pelaksanaan pembangunan berkelanjutan dan transisi energi, Jokowi menyampaikan Indonesia sudah menempuh langkah antisipasi dengan memperpanjang moratorium pembukaan lahan baru.

Ketika menanggapi upaya Indonesia dalam KTT G-20 tersebut, pengamat ekonomi Joshua Pardede mengapresiasi konsistensi Indonesia mempromosikan situasi politik dan ekonomi dalam negeri yang stabil dan kondusif untuk menarik investor dari negara-negara G-20.

"G-20 harus dimanfaatkan untuk mempererat hubungan bilateral agar nilai perdagangan kita tidak anjlok. Kalau nanti kebijakan proteksionisme AS diterapkan, kita bisa mengoptimalkan kerja sama dengan negara lain. Untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,2%-5,6%, kita butuh dorongan investasi ke sektor riil," tandas Joshua. (Pol/Pra/AFP/Ant/X-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Vicky
Berita Lainnya