Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

Dunia Gagal Turunkan Emisi

Siswantini Suryandari dan Siti Retno Wulandari
03/12/2015 00:00
Dunia Gagal Turunkan Emisi
Siti Nurbaya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan(MI/SUSANTO)

TIAP negara harus terus berupaya menurunkan emisi rumah kaca dengan berbagai cara. Pasalnya, dunia dinilai gagal menurunkan suhu Bumi hingga dua derajat Celsius.

Hal itu terungkap dari hasil Intended Nationally Determined Contribution (INDC) yang telah diserahkan ke United Nations Framework Climate Change Conference (UNFCCC).

Sebanyak 119 dari 176 negara yang menyerahkan INDC telah dikoreksi. Hasil agregat rata-rata suhu Bumi antara 2,7-3,5 derajat Celsius. Adapun, kesepakatan dunia selama ini penurunan suhu maksimal 2 derajat Celsius.

"Pemerintah Indonesia sesuai dengan keinginan Presiden, untuk bisa memaksimalkan energi baru dan terbarukan. Beberapa waktu lalu saya dengan Menteri ESDM ke Kalimantan untuk meninjau proyek biomassa dan biofuel seluas 100 ribu hektare. Dengan memanfaatkan tanaman kaliandra, nyamplung, dan lainnya untuk bisa dijadikan energi alternatif," kata Siti Nurbaya dalam keterangan pers di Pavillion Indonesia COP 21 UNFCCC, Le Bourget, Prancis, kemarin.

Dengan didampingi utusan khusus Presiden bidang perubahan iklim Rachmat Witoelar dan mantan Menteri Lingkungan Hidup, Sarwono Kusumaatmadja, Siti Nurbaya menambahkan bahwa konfigurasi untuk energi pada 2025, yakni 23% adalah energi baru dan terbarukan.

"Ditambah inovasi teknologi yang mendukung perubahan iklim," ujarnya.

Selain itu masalah kebakaran hutan juga menjadi tugas pemerintah dalam upaya menurunkan emisi karbon, dengan mengeluarkan kebijakan politik alokasi lahan dan hutan.

Indonesia dalam angka INDC-nya, lanjut Siti, berkomitmen menurunkan emisi karbon hingga 29% dari 2,8 gigaton.

Ini analisis yang sudah dimulai sejak Juli dan sudah diserahkan ke UNFCCC, sebelum terjadi kebakaran hutan dengan emisi 0,8-1,1 gigaton.

"Itu sebelum kebakaran hutan dan lahan. Sekarang kami sedang hitung lagi berapa emisinya,", tambah Siti.

Siti berharap dengan upaya-upaya yang sudah dilakukan pemerintah baik di pusat dan daerah, bisa didengar dan diterima di forum UNFCCC.

Selain itu bantuan pendanaan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim juga bisa diperoleh.

"Saat ini gaungnya masih ke Afrika, maka harus disuarakan lagi agar negara-negara maju juga memberi perhatian ke Asia," katanya.

Tidak semua mampu

Dalam kesempatan yang sama, Rachmat Witoelar menambahkan bahwa suhu di dunia memang tidak rata. Tiap negara memiliki suhu berbeda-beda.

"Tidak semua negara mampu menurunkan hingga 2 derajat Celsius. Rata-rata di negara-negara Afrika saja bisa sampai 6 derajat. Jadi bagaimana langkah berikutnya, apa harus dievaluasi?"

Indonesia saat ini menjadi pusat lobi dari negara-negara berkembang yang tergabung dalam G 77 minus India dan Tiongkok untuk menjembatani hubungan dengan negara-negara maju yang memiliki anggaran besar dan teknologi yang dapat ditransfer.

Menurut Rachmat, Tiongkok sekarang berperan besar menyatukan semua negara yang mengikuti sidang COP 21 UNFCCC.

Sebabnya, banyak kepentingan yang dibawa negara tersebut.

India selalu menolak bergabung karena dapat bernegosiasi sendiri.

Namun, negara-negara di Eropa Utara, Australia, Kanada, Ghana, Korea Selatan sepaham dengan Indonesia dalam memperjuangkan keadilan iklim.

(X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya