Program Laku Mikro Angkat Kesadaran Masyarakat Bawah
Abdus Syukur
02/12/2015 00:00
(Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Setiono---MI/Abdus Syukur)
DALAM Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia (SNLKI), pilar ketiga program pengembangan produk dan jasa keuangan menjadi salah satu dasar terobosan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam menyasar kalangan masyarakat menengah bawah.
Sejumlah program seperti program Layanan Keuangan Mikro (Laku Mikro) dan tabungan siswa berupa Simpanan Pelajar (Simpel) memang diprioritaskan demi mengangkat kesadaran masyarakat bawah untuk memanfaatkan jasa keuangan. Untuk Laku Mikro, sejak 2014 OJK sudah mulai melakukan uji coba di Indramayu, Jawa Barat. Uji coba program saat itu melibatkan 12 lembaga keuangan yang perkembangannya terus dipantau hingga saat ini.
Sejak mulai diterapkan, program Laku Mikro di Indramayu, hingga September 2015 telah menghasilkan 2.796 rekening Laku Mikro. Juga terdapat 2.065 rekening Sipintar dengan nilai simpanan sekitar Rp990 juta serta tabungan biasa sebanyak 484.000 rekening dengan uang tersimpan sekitar Rp1,1 miliar.
"Dari program Laku Mikro di Indramayu itu memang masih belum banyak dana masyarakat yang tersimpan. Tapi yang perlu dicatat, jumlah rekeningnya tampak besar. Artinya, kesadaran masyarakat mulai terangkat dan memahami pentingnya lembaga keuangan," ujar Komisioner OJK Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen, Kusumaningtuti S Setiono.
Menurut Kusumaningtuti, program Laku Mikro di Indramayu tersebut benar-benar ditujukan untuk memberikan edukasi dan pembelajaran tentang inklusi keuangan kepada masyarakat kebanyakan dalam kehidupan sehari-hari. Program Laku Mikro itu diterapkan untuk masyarakat pedagang di pasar-pasar, tukang ojek, dan lainnya.
Dari program Laku Mikro, masyarakat juga diajak untuk bisa menyikapi dan mengelola keuangan yang didapatkan secara bijak. "Semua itu demi kepentingan dan peningkatan kesejahteraan mereka di masa depan."
Selain program Laku Mikro, Simpel yang di-launching Presiden Joko Widodo pada Juni 2015 lalu, perkembangannya hingga saat ini juga terus menunjukkan tren positif. Jumlah rekening Simpel yang diperuntukkan bagi anak-anak pelajar di Indonesia tersebut terus bertambah.
"Program Simpel ini terobosan terbaru dari OJK. Tujuannya untuk pembelajaran sejak usia dini. Anak-anak Indonesia diedukasi cara mengelola keuangan secara baik dan benar sehingga saat dewasa mereka mampu mengelola keuangannya secara benar," ucap Kusumaningtuti.
Begitu antusiasnya respons masyarakat dan kalangan perbankan terhadap Simpel, ia menyebut program tersebut hampir sama dengan program Tabanas di era 1970-an.
Pembangunan bangsa Kusumaningtuti menambahkan, selain edukasi sejak usia dini, program Simpel diharapkan dapat makin memperbesar inklusi keuangan sekaligus mengajak anakanak pelajar untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan.
"Artinya apa, inklusi keuangan berperan penting untuk negara, terutama dalam pembangunan bangsa. Inklusi keuangan akan memperkuat cadangan uang dalam negeri yang ditempatkan pada lembagalembaga keuangan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia," tuturnya.
Karena itu, tak cuma dalam berbagai bentuk program, edukasi tentang keuangan pun secara masif dan terstruktur terus dilakukan OJK. Sebagai contoh, lembaga ini telah melakukan uji coba di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Bersama OJK, Bupati Klaten memanfaatkan para penyuluh, baik penyuluh keluarga berencana (KB), penyuluh pertanian dan penyuluh-penyuluh lainnya, untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya mengelola keuangan secara benar.
"Hasilnya luar biasa karena penyuluh setiap hari turun langsung ke masyarakat membangun kesadaran masyarakat. Dari model yang diterapkan di Kabupaten Klaten itu, OJK siap memberikan bimbingan atau pelatihan jika pemerintah daerah lain menginginkan," imbuh Kusumaningtuti.(AB/S-25)