Headline

Tanpa kejelasan, DPR bisa ganti hakim yang telah dipilih.

COP 21 Bahas Masa Depan Planet

Siswantini Suryandari dan Siti Retno Wulandari Laporan dari Paris
01/12/2015 00:00
COP 21 Bahas Masa Depan Planet
(Sumber: UN French govt/Photo: Kenzo Tribouillard)

SEUSAI pembukaan Konferensi Perubahan Iklim (Conference of Parties Ke-21/COP 21) United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), Indonesia bersama Brasil, Gabon, Norwegia, Peru, Australia, Amerika Serikat, Inggris, Kongo, dan sejumlah negara lain yang memiliki hutan hujan tropis menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang kehutanan.

Inti MoU itu ialah kerja sama penyelamatan lahan gambut dan hutan dari deforestasi dan pembakaran.

Setelah penandatanganan MoU, Presiden RI Joko Widodo bersama Presiden Brasil, Gabon, dan Norwegia berfoto bersama, tetapi tidak memberikan keterangan pers.

Menurut Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nur Masripatin, Indonesia membutuhkan kemitraan strate-gis untuk mencapai pengelolaan lahan gambut berkelanjutan.

"Indonesia ingin ada roadmap jangka panjang, menengah, dan pendek dalam pemecahan masalah asap. Selain itu, upaya mengurangi emisi melalui pengelolaan lahan gambut berkelanjutan, sebagai masukan strategi yang lebih luas," jelas Nur.

Pada konferensi yang diikuti 151 kepala negara itu, Jokowi disambut Presiden Prancis Francois Hollande dan Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Dalam sambutannya, Ban Ki-moon mengajak seluruh delegasi yang hadir untuk tidak lagi melakukan hal-hal yang membahayakan lingkungan.

"Saat ini bukan lagi kembali ke masa lalu, sebab sudah menjadi kesepakatan para delegasi dari seluruh dunia, komitmen untuk menjaga suhu bumi agar tetap di bawah 2 derajat celsius," ujar Ban Ki-moon di Le Bourget.

Empat kriteria

Untuk mengukur kesuksesan dunia dalam mencegah pemanasan global dan naiknya suhu bumi, lanjutnya, ada empat kriteria perjanjian antarnegara peserta COP 21.

Pertama, perjanjian harus bersifat tahan lama.

Kedua, harus bersifat dinamis.

Ketiga, adanya solidaritas terhadap kelompok rentan maupun orang-orang miskin, dan keempat, perjanjian itu harus kredibel.

"Saya berharap akan lahir perjanjian Paris yang mencerminkan keempat kriteria tersebut," tambah Sekjen PBB.

Pada kesempatan yang sama, tuan rumah Presiden Prancis Francois Hollande mengatakan tidak pernah ada pertemuan internasional sebesar dan se-penting COP 21.

"Ini menyangkut masa depan planet. Harapan seluruh umat manusia bertumpu pada Anda semua."

Pada COP 21 diadakan leaders event atau pertemuan para kepala negara yang dipandu Presiden Prancis.

Dalam pertemuan itu, setiap kepala negara mendapat kesempatan berpidato selama 3 menit untuk menyampaikan hal-hal penting yang diperjuangkan dalam COP 21.

Menurut Presiden COP 21 yang juga Menlu Prancis Laurent Fabius, harus ada aksi nyata dalam perubahan iklim.

Kegiatan konferensi di Parc des Expositions du Bourget, Paris, diwarnai pembagian apel kepada setiap undangan yang memasuki ruang konferensi.

Selain apel, sekumpulan perempuan berkostum malaikat dengan sebutan climate guardians juga menarik perhatian para tamu yang hadir.

Mereka mengampanyekan tak ada pemakluman bagi para penjahat lingkungan.

Di dalam ruang konferensi, para tamu kembali disuguhi cokelat gratis.

"Jangan lupa membaca pesan di bungkus cokelat itu. Semoga hari baik menyertai Anda," ujar seorang pria sambil membagikan cokelat bertuliskan 'The Change Chocolate'.

Cokelat itu rupanya pengingat agar para peserta mendukung kampanye pengurangan emisi karbon sampai pada bebas polusi.

(Pra/X-8)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya