SILICON Valley merupakan sebuah kawasan yang meliputi daerah San Francisco, Bay Area, dan California di Amerika Serikat yang telah menjadi kawasan penghasil industri teknologi informasi (TI) terbesar di dunia, sejak kemunculannya di era 1970-an. Perusahaan-perusahaan yang sekarang menghuni tempat ini, antara lain, Adobe Systems, Apple Computer, Cisco Systems, eBay, Google, Hewlett-Packard, Intel, Sun Microsystems, dan Yahoo!. Sebagai jantung perusahaan teknologi dunia, tentunya banyak pekerja top di bidang TI yang menetap di sana bersama keluarga mereka. Muncullah kemudian pertanyaan bagaimana pola belajar anak-anak di Lembah Silikon itu? Suasana belajar di Thomas Russell Middle School (TRMS) yang terletak di Kota Milpitas, California, bisa jadi salah satu gambaran.
Di salah satu kelas, seorang guru perempuan berambut pirang terlihat serius mendampingi tiga murid lelaki yang sedang serius menatap layar laptop di depan mereka. Mereka duduk berkelompok membentuk lingkaran sambil sesekali berdiskusi dengan sang guru. Saat seorang murid berdiskusi dengan gurunya, dua murid lainnya mengerjakan soal matematika dari layar laptop. Di sisi kanan mereka terdapat kertas yang digunakan untuk coretan mencari jawaban.
Pemandangan serupa tak hanya terjadi di satu ruang kelas tersebut, tetapi hampir di setiap ruang kelas TRMS. Wakil Presiden Majelis Pendidikan Milpitas, Gunawan Alisantosa, menjelaskan hal serupa tidak hanya ada di sekolah menengah, tetapi mulai dari jenjang sekolah dasar. Perubahan itu bermula dari empat tahun yang lalu. Mereka melakukan perubahan drastis dalam metode belajar dari yang sebelumnya konvensional menjadi pembelajaran campuran (blended learning).
Di Milpitas, setiap murid di sekolah itu juga mendapatkan satu laptop atau lebih tepatnya dipinjamkan. Tiap laptop ditempeli stiker namanama murid. Akan tetapi, perangkat teknologi tersebut tidak dibawa pulang, setelah belajar mereka kemudian harus mengumpulkan dan menyimpannya di loker. Mereka menggunakan laptop untuk melakukan latihan di kelas atau melakukan penelitian. Beberapa sekolah juga memiliki laboratorium belajar tempat murid dari beberapa kelas dapat bekerja pada proyek-proyek berbasis komputer secara individu ataupun kelompok.
"Zaman telah berubah, maka kita pun harus mengikuti perkembangan zaman. Kalau dulu kita diajarkan duduk di bangku sekolah berjejer dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, dengan blended learning, setiap murid bebas bergerak serta berinteraksi dengan guru," ujar Gunawan, warga negara Indonesia (WNI) yang sudah menetap selama 38 tahun di Amerika Serikat, seperti dikutip dari Antara. Penggunaan kertas di kelas pun jauh berkurang. Misalnya untuk mengerjakan latihan, mereka tidak lagi harus menulis pada papan tulis tetapi cukup mengetik pada laptop mereka yang kemudian diunggah dan dinilai guru mereka. Sementara itu, murid yang memiliki kemampuan menangkap pelajaran agak lamban atau berkategori nakal yang membutuhkan perhatian khusus diberi bimbingan tambahan. "Guru mengajar berdasarkan kemampuan belajar sang murid. Setiap murid mempunyai kecepatan yang berbeda sehingga pendekatan yang dilakukan pun harus berbeda," jelas Gunawan yang saat ini bekerja di perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) tersebut. Tak perlu bayar Untuk menerapkan metode pembelajaran campuran atau blended learning, mereka menggelontorkan dana US$500 ribu atau setara dengan Rp6,9 miliar untuk pembangunan infrastruktur jaringan internet. Sementara itu, untuk laptop dikeluarkan dana US$300 (setara Rp4,1 juta) untuk setiap anak. Lantas dari mana sumber pendanaan diperoleh? Milpitas merupakan kota kecil yang termasuk dalam wilayah Santa Clara. Sekolah tersebut merupakan sekolah negeri dan masyarakat yang memasukkan murid ke sekolah tersebut tidak perlu membayar. Jumlah mereka mencapai 10 ribu murid yang terdiri dari SD, SMP, dan SMA.
Semua dana tersebut berasal dari pajak masyarakat yang dipungut berdasarkan hasil kesepakatan bersama. Gunawan menyebut hal itu dinamakan bond measure, tiap penduduk ditanya apakah mau membayar pajak lebih untuk pembangunan infrastruktur jaringan TIK dan pengadaan laptop di sekolah. Agar berhasil mendapatkan dana dari pajak masyarakat tersebut, harus mengumpulkan setidaknya 55% suara. Jadi harus cerdas dalam melakukan kampanye agar masyarakat mau membayar pajak lebih. "Empat tahun lalu, kami berhasil mengumpulkan US$95 juta dari bond measure," kata Gunawan. Di Indonesia, metode blended learning sesungguhnya telah lama diterapkan.
"Dahulu ada namanya kurikulum Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA), itu sama dengan 'blended learning'. Jadi, begitu mau mengajar, gurunya bertanya ada yang tidak mengerti? Kalau ada yang membutuhkan penjelasan baru diterangkan, kalau tidak ada, ya, tidak," jelas Ketua Badan Penelitian dan Pengembangan Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Muhammad Abduhzen. Akan tetapi, penerapan kurikulum yang dimulai pada 1984 tersebut tidak mencapai target karena waktu yang disediakan terbatas. (S-4)