SEDIKITNYA 800 warga Desa Sirukem, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, Jawa Tengah, masih bertahan di pengungsian Balai Desa Balun, Kecamatan Wanayasa. Selain di balai desa, warga mengungsi di ruangan taman pendidikan Alquran (TPQ) setempat. Mereka masih trauma sejak terjadinya gempa tektonik yang terjadi beruntun mulai Senin (23/11) hingga Selasa (24/11). Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara Catur Subandrio mengungkapkan, meski telah ada sosialisasi dari Stasiun Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setempat, warga masih tetap trauma terhadap gempa yang terjadi.
"Kami tidak memaksa mereka agar segera kembali ke rumah masing-masing meski sebetulnya kondisinya aman. Jumlah pengungsi sekitar 800-an tersebut ditempatkan di balai desa dan ruangan TPQ," kata Catur, kemarin. Menurutnya, pascagempa, pihaknya bersama dinas terkait memeriksa kondisi tanah di tiga dusun yang berada di Desa Sirukem, yakni Dusun Gunung, Krajan, dan Sirukem. "Dari hasil pemeriksaan di lapangan, tidak ada rekahan tanah. Sebetulnya kondisi Desa Sirukem sangat aman. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Warga mungkin masih trauma," tambahnya.
Masih banyak pengungsi bertahan di balai desa, TNI telah menyiapkan dapur umum yang melayani warga. Gempa yang terjadi dua hari berturut-turut di Desa Sirukem, Kecamatan Kalibening, menyebabkan sedikitnya 1.958 warga desa tersebut mengungsi. Data Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara menyebutkan gempa terjadi tiga kali, mulai Senin (23/11) pukul 14.53 WIB di 7,10 LS dan 109,86 BT atau 36 km sebelah timur Banjarnegara dengan kedalaman 5 km dan kekuatan 2,5 SR. Kemudian terjadi gempa susulan pukul 19.55 dengan kekuatan 2,2 SR. Lokasinya berada di 7,15 LS dan 109,77 BT dengan kedalaman 3 km. Gempa berikutnya terjadi kemarin pukul 02.19. Kekuatannya gempa mencapai 2,3 SR di 7,11 LS dan 109,84 BT dengan kedalaman 9 km.